• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

PENGOLAHAN UBI JALAR MENJADI ANEKA OLAHAN KUE

Pangan lokal nusantara berperan penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Tanaman pangan seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung dan sagu yang telah diolah menjadi tepung akan memiliki potensi yang besar sebagai bahan baku industri untuk menggantikan tepung terigu yang selama ini impor. Kebutuhan tepung terigu yang semakin tinggi tetapi, Indonesia bukan negara yang menghasilkan gandum yang merupakan bahan baku pembuatan tepung terigu. Sehingga untuk menggantikan bahan baku tepung terigu perlu adanya bahan baku pengganti, agar Indonesia tidak terus menerus bergatung pada negara lain. Salah satu tanaman pangan yang dapat sebagai pengganti  bahan baku tepung adalah ubi jalar.

Teknologi Perbenihan Pala

Proses menumbuhkan biji pala, tidak semudah membenihkan tanaman perkebunan lainnya seperti Kakao ataupun kopi. Biji pala membutuhkan masa perkecambahan benih yang cukup lama, bisa mencapai 6 bulan. Hal ini karena cangkang biji cukup keras, sehingga membutuhkan waktu yang lama bagi bakal kecambah untuk menembus diding cangkang pala.

Jika tidak diberi perlakukan sama sekali pada biji, maka tentunya akan membutuhkan waktu yang lama. Dan ini sangat mempengaruhi waktu dan biaya pemeliharaan perbenihan di lapangan. Berbagai perlakuan mekanis telah dicobakan, yaitu dengan mengikis sisi ujung biji menggunakan pisau, dan kertas amplas. 

Berdasarkan hasil penelitian terhadap pala Banda, masa dormansi dapat dipatahkan dengan penggunaan hormon perangsang tumbuh, seperti giberelin. Namun kajian ini lebih menekan pada perlakuan mekanis, semaksimal mungkin menghindari penggunaan bahan kimia. Karena adanya pengembangan Pala Organik di Kabupaten Fakfak.

Hasil pengamatan kecepatan tumbuh biji pala sejak disemai berdasarkan perlakuan guratan pada cangkang biji pala diperlihatkan pada Tabel 1. Perlakuan mekanis guratan sebanyak tiga kali memberikan hasil yang lebih baik. Biji pala sudah berkecambah pada umur 60 hari setelah tanam (HST) (Tabel 1). Di mana pada umur 60 HST sudah muncul bakal batang sekitar 5 cm di atas permukaan media tanam (Gambar 3). Sementara perlakuan tanpa guratan (P0) belum mengeluarkan tunas. Sedangkan guratan sebanyak 4 kali tidak tumbuh, sebagian busuk karena lebih banyak menyerap air. Kulit cangkang hasil guratan terlampau tipis, sehingga lebih banyak menyerap air dan terjadi pembusukan pada bakal kecambah.

Tabel 1. Pertumbuhan kecambah benih Pala pada umur 60 hari dengan perlakuan mekanis

Perlakuan

 

Ulangan

 

Rata-rata Jumlah benih yang

 

I

II

III

tumbuh (60 Hari)*)

P0

0

0

0

0,0

P1

3

4

2

3,0

P2

4

6

5

5,0

P3

9

9

10

9,3

P4

2

3

2

2,3

Jumlah Umum

 

 

 

19,33

Rataan Umum

 

 

 

3,87

 

 

Talas Raksasa Mapia dan Sebarannya di Papua Barat

Pulau Papua adalah salah satu pulau utama di Kepulauan Indonesia yang memiliki potensi sumberdaya genetik (SDG) tanaman pertanian yang tinggi, yang diindikasikan dari beragamnya kondisi agroekosistem mulai dari dataran rendah dengan ekosistem lahan kering, basah, dan rawa hingga dataran tinggi diatas 4000 meter di atas muka laut dengan ekosistem alpin. Secara umum kekhasan wilayah ini telah ditandai berbeda dari wilayah lainnya di Indonesia oleh  garis Webber dan Wallace.