• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

BPTP Papua Barat

  • Antusiasme Petani Lokal Ikuti Bimtek Padat Karya

    Manokwari Timur (26/02/21), cuaca mendung dan gerimis tidak menghalangi semangat petani dalam mengikuti Bimtek Padat Karya Budidaya Padi Ladang Ampibi. Kegiatan Bimtek Padat Karya Ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka Diseminasi Inovasi Teknologi Badan Litbang Kementerian Pertanian dan untuk peningkatan ketahanan pangan keluarga/masyarakat.

    Kegiatan Bimtek Padat Karya dilaksanakan menyesuaikan kebutuhan teknologi bagi masyarakat. Inovasi teknologi dari Badan Litbang disesuaikan dengan kebutuhan kelompok. Pada Bimtek Padat Karya ini terdapat tiga materi yang disampaikan yaitu: 1). Budidaya Padi Ladang Ampibi, 2). Praktek Pengukuran Kesuburan Tanah dan 3). Potensi Pengembangan Padi Ladang di Kabupaten Manokwari.

    Peserta Bimtek terdiri dari 35 orang yang merupakan anggota Kelompok Tani Womnai yang merupakan kelompok tani binaan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Distrik Manokwari Timur. Kelompok ini merupakan kelompok tanaman pangan yang menanam padi ladang, umbi-umbian dan hortikultura. Kelompok ini masih kategori pemula dan masih sangat memerlukan pendampingan khususnya dalam hal administrasi kelompok tani.

    Narasumber kegiatan Bimtek adalah Penyuluh Pertanian BPTP Papua Barat yaitu Sostenes Konyep SP, yang menyampaikan materi tentang Budidaya Padi Ladang Ampibi dan Praktek Pengukuran Kesuburan Tanah Menggunakan PUTK (Perangka Uji Tanah Kering). Tujuan pelaksanaan praktek kesuburan ini adalah pembelajaran bagi petani untuk mengetahui tingkat kesuburan lahan. Narasumber yang berikutnya adalah Galih Wahyu Hidayat, SP yang menyampaikan materi tentang Potensi pengembangan padi ladang Ampibi di Kabupaten Manokwari.

    Animo anggota kelompok tani Womnai untuk belajar sangat tinggi, karena keinginan petani untuk mengatasi permasalahan serta tingginya semangat untuk meningkatkan kesejahteraan.  Respon petani dengan diskusi dan tanya jawab berjalan secara dinamis pada saat penyampaian materi maupun sesi tambahan diskusi. Secara garis besar, pokok permasalahan yang dihadapi oleh petani anggota kelompok tani Womnai adalah a). Budidaya padi ladang Ampibi, b). Pengelolaan air pada lahan terasering, c). Keterbatasan alsintan dalam pengolahan lahan d). Bantuan subsidi pemupukan dan permodalan usaha tani, e).  Administrasi kelompok yang belum bisa sesuai dengan petunjuk dari Kementerian Pertanian.

    Rencana Tindak Lanjut dari kegiatan Bimtek adalah akan diadakan pertemuan kembali pada triwulan II dan  praktek pembuatan jarak tanam sekaligus pemberian benih padi ladang Ampibi kepada Angota Kelompok Tani agar dapat ditanam pada musim tanam Bulan Oktober Tahun 2021.

    READ MORE
  • Bhayangkari Polda PB Beri Respon Positif Saat Ikuti Bimtek Online

    Bimbingan Teknologi (Bimtek) dengan tema "Ketahanan Pangan dan Menjaga Kelestarian Sungai" dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke 68 Polda Papua Barat dilaksanakan secara online melalui kanal Zoom Meeting pada Selasa (21/07/2020).

    Acara ini dipimpin langsung oleh Ibu Ketua Bhayangkari Polda Papua Barat, Ibu Martha Tornagogo Sihombing dan dihadiri oleh 93 peserta pengurus cabang dan perwakilan seksi sosial budaya setiap cabang Bhayangkari. Dalam acara ini yang bertindak sebagai narasumber adalah peneliti muda BPTP Papua Barat, Dr. Aser Rouw, SP, M.Si dan penyuluh BPTP Papua Barat, Galih Wahyu Hidayat, SP.

    Dalam sambutannya, Ibu Marta menyampaikan bahwa setiap anggota Bhayangkari wajib berkontribusi dalam ketahapan pangan dan memelihara kebutuhan gizi keluarga serta turut menjaga kebersihan daerah aliran sungan dan lingkungan sekitar dengan mengelola sampah dengan baik. Materi yang disampaikan dalam kegiatan agar dapat disampaikan kepada anggota di tingkat kabupaten.

    Materi yang disampaikan oleh narasumber diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan menggugah kesadaran anggota Bhayangkari tentang upaya yang dilakukan dalam menjaga ketahanan pangan dan pemenuhan gizi keluarga. Bahyangkari juga dapat berperan aktif untuk menjaga kebersihan daerah aliran sungai dengan tidak membuang limbah ataupun sampah yang berbahaya secara sembarangan ke sungai.

    Bhayangkari juga diharapkan menjadi agen perubahan dengan mengkampanyekan 3M yaitu (Mengurangi, Menggunakan Kembali dan Mendaur Ulang) sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga masing-masing. Setiap anggota Bhayangkari harus bisa menjadi teladan bagi keluarga, lingkungan dan masyarakat dalam mengelola sampah. Melalui media zoom online ini peserta juga memberikan respon dengan pertanyaan atau diskusi tetang tema yang disampaikan.

    Penulis: Galih Wahyu Hidayat, SP

    READ MORE
  • Bimbingan Teknis Padat Karya BPTP Papua Barat

    Sebagai upaya mendukung kebijakan Pemerintah untuk memulihkan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat ditengah pandemi Covid-19, serta sebagai wujud pelaksanaan amanat presiden RI melalui Kementerian Pertanian dengan program padat karya, BPTP Balitbangtan Papua Barat melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis untuk petani-petani di Papua Barat.

    Tujuan dari Bimbingan Teknis (Bimtek) Padat Karya ini adalah untuk mendukung praktek pertanian yang baik dan berkelanjutan serta mendiseminasikan Inovasi Teknologi Badan Litbang Pertanian serta memberikan tambahan pendapatan bagi petani yang terdampak Covid-19. Sesuai dengan target yang diberikan Balitbangtan, BPTP Papua Barat harus mengadakan bimtek untuk 500 petani hingga akhir bulan Maret 2021. Adapun materi bimtek-bimtek ini disesuaikan dengan jenis komoditas dan kebiasaan petani setempat.

    Rincian bimtek padat karya yang telah dilaksanakan BPTP Papua Barat sejak Februari sampai dengan bulan Maret 2021 adalah sebagai berikut:

    1. Identifikasi Kesuburan Tanah dan Pengolahan Lahan di Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari pada tanggal 9 Februari 2021 dengan total peserta sebanyak 19 orang.
    2. Budidaya Padi Ladang Amfibi di Distrik Manokwari Timur, Kabupaten Manokwari pada tanggal 26 Februari 2021 dengan total peserta sebanyak 35 orang.
    3. Teknologi Budidaya dan Pascapanen Jagung di Distrik Masni Kabupaten Manokwari pada tanggal 3 Maret 2021 dengan total peserta sebanyak 40 orang.
    4. Teknologi Budidaya, Pengendalian Hama Penyakit dan Pascapanen Jagung di Kampung Warbiadi, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan pada tanggal 10 Maret 2021 dengan total peserta sebanyak 45 orang.
    5. Pengelolaan Tanaman Padi Amfibi dan dan Budidaya Tanaman Cabai di Kampung Dindey, Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari pada tanggal 17 Maret 2021 dengan total peserta 61 orang.
    6. Budidaya Sayuran Organik dan Pestisida Alami di Kampung Maruni, Distrik Manokwari Selatan pada tanggal 18 Maret 2021 dengan total peserta 52 orang.
    7. Perbanyakan Tanaman Kakao Dengan Cara Menyambung di Di Distrik Sidey, Kabupaten Manokwari pada tanggal 18 Maret 2021 dengan total peserta 53 orang.
    8. Teknologi Pengolahan Sukun di Kampung Arowi, Distrik Manokwari Timur pada tanggal tanggal 20 Maret 2021 dengan total peserta 57 orang.
    9. Budidaya Ubi-Ubian dan Pembuatan Pupuk Kompos di Distrik Prafi pada tanggal 20 Maret 2021 dengan total peserta 51 orang.
    10. Penggunaan Pestisida Pada Tanaman Sayuran di Kantor BPTP Papua Barat di Anday, Distrik Manokwari Selatan tanggal 22 Maret 2021 dengan total peserta 49 orang.
    11. Pengolahan Kelapa dan Pisang di Distrik Manokwari Selatan pada tanggal 24 Maret 2021 dengan total peserta 50 orang.
    12. Perbenihan Kopi Arabika di Kampung Kwaw Distrik Warmare pada tanggal 27 Maret 2021 dengan total peserta sebanyak 40 orang.

              Dengan demikian sampai dengan saat ini BPTP Papua Barat telah memberikan bimtek kepada 552 petani di 2 kabupaten di Papua Barat yaitu Manokwari dan Manokwari Selatan.

     

     

     

     

     

     

    READ MORE
  • Bimtek Identifikasi Kesuburan dan Pengolahan Lahan Untuk TNI

    BPTP Papua Barat melakukan kegiatan bimbingan teknis dengan topik “Identifikasi Kesuburan Tanah dan Pengolahan Lahan” pada Senin (22/02) kemarin. Kegiatan berlangsung sekira pukul 09.00 hingga pukul 12.00 WIT di Markas Batalyon Infanteri 761/Kibibor Akinting di Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari. Adapun rangkaian kegiatan ini adalah kelanjutan dari kegiatan koordinasi dan survey yang dilaksanakan pada 9 Februari 2021 yang lalu.

    Adapun susunan acara pada kegiatan tersebut terdiri dari: 1) Pembukaan oleh Dr. Aser Rouw, SP, M.Si  2) Sambutan dari Kepala Balai BPTP Papua Barat Ir. Demas Wamaer, MS dan Komandan Batalyon Infanteri 761/KA Mayor Infanteri Misael Marthen Jenry Polii 3)Penandatanganan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerjasama Antara BPTP Papua Barat dan Batalyon Infanteri 761/Kibibor Akinting 4) Teori dan Pengantar Identifikasi Kesuburan Tanah dan Pengolahan Lahan oleh Dr. Aser Rouw, SP, M.Si 5) Praktek identifikasi kesuburan tanah yang dipandu oleh Apresus Sinaga, SP, M.Sc dan Junita Br. Nambela, SP dan 6) Praktek pengolahan lahan dipandu oleh Sostenes Konyep, SP.

    Walaupun hujan mengguyur tak menyurutkan semangat para peserta untuk mengikuti bimtek. Sebanyak 30 orang anggota TNI mengikuti bimtek tersebut dengan antusias dan semangat. “Bagaimana mau bertempur kalau perut lapar? Tentu tidak bisa,” kata Komandan Batalyon Infanteri 761/KA pada acara pembukaan. “Oleh karena itu kita perlu pengetahuan dan kemampuan bercocok tanam juga untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar kita untuk makan”, tambah beliau lagi.

    Acara tersebut berlangsung dengan metode teori (indoor) dengan persentase 10% dan praktik (outdoor) dengan persentase 90%. Pada praktek identifikasi kesuburan tanah dilakukan dengan penggunaan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK) untuk menguji pH tanah dan rekomendasi pemupukan lahan. Sedangkan pada praktek pengolahan lahan diperkenalkan dan dilatih penggunaan traktor roda empat untuk pengolahan lahan. (JS)

    READ MORE
  • Bimtek Sistem Teknologi Budidaya Jagung

    Kamis, 2 Desember 2021, dilaksanakan Bimbingan Teknis Budidaya Jagung di Kampung Klamalu, Distrik Mariat  Kabupaten Sorong dalam rangka mendukung kegiatan model pengembangan kawasan lahan kering terinegrasi ternak di Papua Barat.

    Acara diikuti oleh 75 orang petani jagung hortikultura cabai, peternak, Tokoh Adat Papua Malamoi Bapak Melkius Osok, Kepala dinas tanaman pangan hortikultura dan perkebunan kabupaten sorong  Ir Frengki Y. Wamafma M.Si . Acara dibuka langsung oleh kepala BPTP Papua Barat Bapak Zainal Abidin S.P., M.P. menyampaikan Sasaran utama pembangunan pertanian dan ekonomi perdesaan adalah peningkatan produktivitas dan kualitas produk pertanian yang berdaya saing di pasaran. Salah satunya melalui integrasi tanaman ternak pada pertanian lahan kering. Pengembangan system integrasi menjadi pilihan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumberdaya. Salah Satu Integarasi Ternak pada tanaman adalah Tanaman Jagung. Dimana Jagung merupakan komoditas pangan utama yang pengembangannya terus digenjot untuk menuhi permintaan dalam negeri yang selama ini masih di penuhi oleh jagung impor.

    Pengembangan jagung ini dapat dikomobinasikan dnegan pengembangan tanaman lain misalnya cabe, tanaman hortikultura lainnya dan ternak untuk mendukung pola integrasinya. Pada kesempatan ini kami selaku BPTP Papua Barat dipercaya dapat melakukan pendampingan baik secara langsung dilapangan dan Pemberian beberapa Pelatihan. Salah satu Pelatihan yang sudah kami lakukan adanya Pengenalan Integrasi Ternah, Sistem Teknologi Budidaya Hortikultura (Cabai) dan Sistem Teknologi Budidaya Tanaman Jagung.

    Dilaksanakan pula penanaman perdana Varietas Unggul Baru (VUB) oleh  Jagung badan litbang pertanian. varietas yang ditanam meliputi Nasa 29, JH 37, Jakaring, Lamuru, NA-1, NA-2 dan Sukmarga. Varietas unggul baru jagung ditanam dilahan seluas 5 ha. Lahan disiapkan dengan baik dengan dibuat bedengan sesuai arah sinar matahari agar tanaman dapat tumbuh dengan optimal, selain itu penanaman menggunakan mekanisasi pertanian dengan menggunakan alat penanam jagung yang memiliki fungsi dapat mempercepat proses penanaman jagung.

    READ MORE
  • Bimtek Teknologi Budidaya dan Perbanyakan Benih Pisang Barangan Merah

    Kementerian Pertanian melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (Puslitbang Horti) dan Balai Pengkajian Pengembangan Pertanian Papua Barat (BPTP Papua Barat) menyelenggarakan bimbingan teknis teknologi budidaya dan perbanyakkan benih pisang secara luring maupun daring bagi Penyuluh, Petani dan Asosiasi Pengusaha Pisang di Manokwari. 

    Bimtek kali ini dilaksanakan pada hari Senin, 13 Desember 2021 di aula Gedung Serbaguna Kampung Prafi Mulya. Acara ini diikuti oleh 112 peserta yang terbagi 77 peserta berasal dari Kabupaten Manokwari, 7 peserta dari Kabupaten Manokwari Selatan dan 28 peserta dari Kabupaten Sorong. 

    Turut hadir dalam acara tersebut, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Prov. Papua Barat yang diwakili oleh Kabid Hortikultura (Hippolytus Taa, SP., MP), Kepala Puslitbang Horti yang diwakili oleh Kepala TU Puslitbang Horti (Asrul Koes, SP., MSi.), Kepala BPTP Papua Barat (Zainal Abidin, SP., MP), Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Manokwari (Kukuh Saptoyudo, SP, M.Si). Acara dibuka oleh Bupati Manokwari yang diwakili Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Manokwari.

    Berkenan memberikan sambutan, Kepala BPTP Papua Barat Zainal Abidin, SP, M.Si. Beliau menyampaikan bahwa Bimtek pada kali ini merupakan perwujudan dari Bapak Presiden dan Menteri Pertanian pada saat kunjungan kerja di Papua Barat untuk melakukan penanaman 10 ribu pohon pisang di Papua Barat. Harapannya dengan bibit yang baik, Petani Pisang dapat meningkatkan produksi pisang di Papua Barat bahkan bisa ekspor pisang. 

    Sementara Asrul Koes, SP, M.Si menambahkan bahwa bibit pisang tersebut merupakan jenis pisang Barangan Merah yang didatangkan dari Sumatra Barat dan merupakan pisang yang berkualitas ekspor yang alokasinya 7.500 benih pisang untuk dikembangkan di Kabupaten Manokwari dan 2.500 benih pisang di Kabupaten Sorong. Acara dilanjutkan dengan penyerahan benih pisang secara simbolis oleh Kepala BPTP Papua Barat kepada Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Manokwari.

    Sebagai narasumber pertama dalam bimtek adalah Kepala Bidang Hortikultura dinas tanaman pangan hortikultura dan perkebunan Provinsi Papua Barat yang menyampaikan “Kondisi Eksisting Komoditas Pisang di Provnsi Papua Barat”.  Menurutnya kondisi Tanah pada beberapa Daerah di Provinsi Papua Barat cukup baik untuk pengembangan Budidaya pisang seperti pada daerah Kabupaten Manokwari, Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten Sorong, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Tambrauw, dan Kabupaten Sorong Selatan. Namun di Papua Barat Budidaya tanaman pisang masih dilakukan secara tradisional dan belum menerapkan tindakan agronomi yang baik. Selain itu, masyarakat/petani masih melakukan budidaya dengan pola campuran, belum ada yang pola khusus yaitu dengan fokus pada pengembangan komoditas pisang. Dengan demikian, dibutuhkan pendampingan dan dukungan secara khusus untuk menindaklanjuti permasalahan ini.

    Narasumber kedua yakni Peneiiti dari Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika oleh Ir. Irwan Muas, MP , beliau memaparkan materi tentang “Teknologi Budidaya dan Perbanyakkan Pisang”. Dalam paparannya, bahwa saat ini di pasar modern lebih didominasi buah import ketimbang buah lokal. Padahal komoditas pisang dapat memberikan kontribusi produksi buah nasional dikarenakan termasuk komoditas strategis dalam pembangunan ekonomi yang memiliki sektor peluang pasar luas. Selain itu, beliau memaparkan juga teknologi budidaya pisang yang baik, meliputi varietas pisang unggul, cara persiapan lahan, perawatan tanaman, proses panen yang baik. 

    Selain dikonsumsi buah segar, buah pisang dapat juga dibuat olahan pisang. Misalnya tepung pisang, sale pisang, dll. sehingga dengan olahan pisang dapat memberikan beragam keuntungan bagi petani maupun pelaku usaha. Dalam bimtek kali ini, tidak hanya sekedar materi saja namun dilakukan juga praktek perbanyakkan benih pisang dari bonggol sehingga menambah antusias peserta bimtek.

    Diakhir acara kepala BPTP Papua Barat menekankan kembali bahwa bimtek kali ini masih belum berakhir. Tindak lanjutnya, BPTP Papua Barat akan tetap melakukan pendampingan kepada petani sampai dengan tahapan panen sehingga program ini dapat berhasil untuk mendukung kesejahteraaan petani terutama petani di Provinsi Papua Barat. (Witman/Ulum)

    READ MORE
  • BIMTEK Tingkatkan Kapasitas Penyuluh dan Petani

    Pembangunan sektor pertanian, masih menjadi skala prioritas yang dikembangkan di Kabupaten Fakfak. Beberapa wilayah mempunyai lahan pertanian yang cukup luas dan potensial untuk dapat dikembangkan dalam penyediaan produk-produk pertanian, seperti: tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan dan tanaman umbi-umbian, termasuk juga peternakan guna mendukung peningkatan ketahanan pangan daerah maupun nasional.

    Beberapa wilayah yang berpotensi untuk pengembangan pertanian adalah Distrik Bomberay dan Distrik Tomage. Namun, dalam pengembangan tersebut terkendala dengan lahan yang bersifat marginal (tanah kering masam). Di sisi lain, wilayah ini memiliki variabilitas iklim yang tinggi dalam skala ruang dan waktu.

    Dalam rangka itu, Dinas Pertanian Kabupaten Fakfak bekerja sama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian – Papua Barat dan Universitas Pattimura (UNPATTI) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Pelatihan) “Tata Guna Lahan, Irigasi, Perangkat Uji Tanah, dan Jabatan Fungsional Penyuluh” kepada Penyuluh dan Petani di Distrik Bomberay dan Distrik Tomage. Bimtek (Pelatihan) ini berlangsung selama empat hari, dari tanggal 16 – 19 Desember 2019.

    Hadir sebagai narasumber pada Bimtek tersebut adalah 1) Ir. Demas Wamaer, MP (BPTP Papua Barat), 2) Dr. Aser Rouw, SP., MSi. (BPTP Papua Barat), 3) Dr. Ir. Elisabeth Kaya, MP (Unpatti), 4) Ir. Markus Luhukai, MSi. (Unpatti), 5) Subiadi, SP., MSc., 6) Surianto Sipi, SP., dan 7) Muh. Fathul Ulum Ariza, SP., MSi.

    Bimtek ini bertujuan untuk memberikan pemahaman teknis tentang penggunaan inovasi teknologi sederhana untuk mengatasi kendala kemasaman tanah, efisiensi penggunaan pupuk, air irigasi dan variabilitas iklim dan peningkatan kapasitas penyuluh kepada Penyuluh dan Petani. Para penyuluh diharapkan akan menjadi pelatih (trainer) bagi petani.

    Penulis: Muh. Fathul Ulum Ariza, SP., M.Si

     

     

    READ MORE
  • Bimtek UPSUS PAJALE di Raja Ampat

    Pada tahun 2017 ini, Konsorsium Penelitian Padi Nasional kembali berhasil melepas varietas unggul baru (VUB) padi gogo. Konsorsium penelitian padi gogo lintas lembaga yang dibentuk oleh Badan Litbang Pertanian pada tahun 2008 ini berhasil melepas tiga VUB padi gogo yaitu INPAGO 12 AGRITAN, IPB 9G dan UNSOED PARIMAS. Ketiga varietas tersebut telah melalui pengujian di delapan lokasi lahan kering yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dibawah Litbang Pertanian, bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor dan Universitas Jenderal Soedirman.

    Varietas INPAGO 12 AGRITAN merupakan padi gogo hasil pemuliaan Badan Litbang Pertanian, memiliki potensi hasil yang tinggi yakni sebesar 10.2 ton/ha, rata-rata hasil 6.7 ton/ha, agak toleran terhadap kekeringan dan keracunan Al yang menjadi masalah di lahan kering masam, dan tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, serta memiliki tekstur nasi yang agak pulen.

    Varietas IPB 9G merupakan padi gogo yang dikembangkan oleh Dr. Hajrial Aswidinnoor bersama tim dari Institut Pertanian Bogor. Varietas tersebut memiliki potensi hasil 9.09 ton/ha, dan rata-rata hasil 6.09 ton/ha, tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, agak tahan terhadap keracunan Al dan memiliki tekstur nasi pulen.

    Varietas UNSOED PARIMAS merupakan padi gogo yang dihasilkan oleh Prof. Suwarto dan tim dari Universitas Jenderal Soedirman, memiliki potensi hasil 9.40 ton/ha, rata-rata hasil 6.19 ton/ha, tahan terhadap beberapa ras blas, agak tahan terhadap keracunan Al dan kekeringan, dan tekstur nasinya pulen

    Ketiga varietas baru tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan bagi petani untuk meningkatkan produksi padi di lahan kering. Konsorsium padi nasional akan terus berlanjut dalam menghasilkan inovasi pertanian mendukung tercapainya swasembada beras berkelanjutan.

     

    READ MORE
  • Transformasi Budaya Petani Lokal melalui Bimtek

    Pertanian sawah (intensif/menetap) merupakan sebuah transformasi budaya bagi masyarakat lokal papua dan papua barat yang tebiasa menerapkan sistem pertanian (perladangan) berpindah. Di Manokwari Selatan luas tambahan cetak sawah baru sekitar 1000 ha yang 90% nya berada di wilayah adat masyarakat lokal dan sebagian besar kondisi lahannya belum berpengairan dan belum tertata sebagai sawah yang ideal. Kebiasaan lahan cetak sawah baru sekali tanam (ditanami satu kali kemudian dibiarkan tidak ditanami setelah itu), mengakibatkan kontribusi lahan cetak baru terhadap produksi pertanian daerah tidak maksimal. Untuk itu pendampingan yang intensif perlu dilakukan untuk mendorong semangat petani lokal untuk mengoptimalkan lahan yang sudah tercetak. 

    BPTP Papua barat melaksanakan denfarm dukungan inovasi teknologi peningkatan IP pada lahan cetak baru milik petani lokal seluas 10 ha pada hamparan 54 ha dengan melibatkan dua kelompok tani (41 petani): Fasmeda (27 petani) dan Nyamtui (14 petani) yang berlokasi di Kampung Nyamtui, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan. Pendekatan pola tanam yang dilakukan yaitu dengan mengintroduksi Jagung komposit Bisma pada MT 2, memperkenalkan komponen teknologi kepada petani lokal berupa :  sistem tanam legowo 4:1, dan dosis pemupukan spesifik lokasi yang ditentukan dengan PUTK.

    Bimtek pemupukan spesifik lokasi dilakukan secara bertahap BPTP Papua Barat, setelah sebelumnya dilakukan bimtek sistem tanam jajar legowo. Kegiatan ini sangat penting karena petani koperator sama sekali belum pernah menggunakan pupuk, meskipun pada musim tanam sebelumnya mereka menanam padi gogo. Bimtek dilaksanakan pada tanggal 20 September 2018, dan dihadiri oleh 70 (tujuh puluh) orang peserta, yang terdiri dari: petani koperator, peneliti/penyuluh BPTP Papua barat, penyuluh lapangan (PPL), serta pihak dinas ketahanan pangan dan pertanian Kabupaten Manokwari Selatan. Waktu bimtek bertepatan dengan pelaksanaan pemupukan kedua pada denfarm tanaman Jagung.

    Kepala BPTP Papua Barat dalam sambutannya menyampaikan tugas BPTP dalam upaya pendampingan peningkatan produksi pangan melalui kegiatan strategis kementan adalah mengidentifikasi kebutuhan inovasi teknologi dan kemudian mendampingi secara intensif dalam proses pelekasanaan di lapangan. Pelaksanaan denfarm dan bimtek adalah bagian dari tugas pendampingan BPTP.

    Sementara itu, Dr. Ir. Nandang Sukandar, MP mewakili Kepala BBP2TP menyampaikan bahwa BPTP Papua barat dan Dinas perlu menyusun startegi untuk mengoptimalkan lahan-lahan yang ada bagi pengingakatan luas tambah tanam (LTT) dan produksi pangan. Petugas LO dari BPTP dapat mengindetifikasi calon petani dan lahan (CPCL) dan kemudian BPTP menyampaikan secara tertulis ke Dinas Pertanian untuk eksekusi program. Setelah itu, BPTP perlu terus mendampingi untuk memberikan penguatan inovasi teknologi. Dalam konteks ini hasil-hasil kajian BPTP juga dapat segera disampaikan melalui surat ke Dinas agar dapat digunakan secara cepat untuk mendukung upaya peningkatan produksi pangan. Pihak Dinas perlu pula menyampaikan data CPCL yang sudah diprogramkan kepada BPTP, agar BPTP dapat merencanakan dan melaksanakan kegiatan pendampingan secara tepat. Disampaikan pula bahwa BPTP Papua Barat perlu menganalisis kebutuhan konsumsi pangan di Papua Barat dan berapa besar produksi pangan yang diperlukan. Hal ini akan menjadi dasar bagi strategi peningkatan provitas dan luas tambah tanam. Data dan informasi ini perlu nantinya disampaikan pada waktu pembahasan LTT di pusat. 

    Selanjutnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Manokwari Selatan yang diwakili oleh Sekretris Dinas: Frans Wilhelmus Meokbun, S.ST dalam sambutanya  menyampaikan apresiasi baik kepada Litbang Pertanian yang telah mendorong optimalisasi pemanfaatan lahan cetak sawah baru khususnya pada masyarakat lokal Papua. “Kami berterima kasih kepada BPTP Papua Barat karena telah mendampingi petani sehingga mereka mulai mengenal dan dapat menggunakan pupuk pada tanamannya”. Dan lebih lanjut kepala Dinas memohon bantuan BPTP untuk terus mendampingi petani agar dapat terjadi transformasi sistem bertani pada petani lokal  di Papua Barat.  

    Materi bimtek pemupukan spesifik lokasi disampaikan dengan pendekatan penjelasan dan demonstrasi oleh tim peneliti/penyuluh BPTP yang dipimpin oleh Penanggung Jawab Kegiatan Dukungan Inovasi teknologi untuk peningkatan IP di Papua Barat Dr. Aser Rouw, SP, M.Si. Struktur materi bimtek pemupukan spesifik lokasi disusun sesuai dengan karakteristik para petani lokal yang masih sangat minim menerima dan menerapkan informasi teknologi pertanian. Substansi materi pemupukan spesifik lokasi mencakup empat hal penting: (1) jenis dan manfaat pupuk, (2) cara menentukan dosis pupuk spesifik lokasi, (3) cara memupuk, dan (4) waktu pemupukan. Keempat aspek tersebut disusun dalam bentuk pertanyaan terstruktur yang mudah dipahami yang kemudian dijelaskan dengan bantuan slite dan demonstrasi secara langsung dengan dukungan alat peraga berupa: jenis pupuk (anorganik dan organik), timbangan, alat panakar dan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK).

    Jenis pupuk yang diperkenalkan kepada petani adalah Urea, SP36 dan NPK Phonska. Karena jenis pupuk ini yang tersedia dan digunakan oleh petani. Petani diminta untuk menunjuk dan menjelaskan bentuk dan warnah masing-masing jenis pupuk tersebut secara fisual berdasarkan contoh pupuk yang disediakan sebagai alat/bahan peraga. Manfaat pupuk bagi tanaman, dijelaskan dengan ilustrasi hasil tanaman yang diperoleh berdasarkan pengamalaman mereka dalam sistem perladangan berpindah. Mereka mengunkapkan bahwa mereka membuka sebuah hutan dan hanya ditanami sekitar 2-3 tahun kemudian berpindah dan membuka lagi kebun baru. Hal ini dilakukan karena hasil yang diperoleh semakin lama semakin sedikit. Kepada petani dijelaskan hasil yang makin lama makin sedikit karena makanan yang tersedia bagi tanaman di dalam tanah sudah berkurang “ tanah sudah miskin/tidak subur”. Tanah harus dipupuk. Dan inilah manfaat pupuk, yaitu untuk mendapatkan hasil panen yang baik.

    Cara menentukan dosis pupuk sepsifik lokasi dijelaskan dengan ilustrasi bahwa berapa unsur hara (makanan tanaman) yang tersedia di dalam tanah? Dan berapa yang dibutuhkan tanaman? Khususnya tanaman jagung. Berapa kekurangan hara yang perlu ditambahkan kedalam tanah supaya mencukupi bagi kebutuhan jagung. Inilah yang dimaksud pemupukan spesifik lokasi. Cara menentukan dosis pupuk spesifik lokasi ini dilakukan dengan alat/perangkat yang disebut dengan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK). Petani tidak asing dengan perangkat PUTK karena telah diperkenalkan/dipraktekkan sebelumnya pada saat awal penentuan dosis pupuk spesifik lokasi pada lokasi Denfarm.

    Untuk waktu pemupukan, dijelaskan kepada petani bahwa mereka harus ingat dua hal penting: (1) umur perkembangan tanaman tanaman Jagung dan (2) keadaan tanah. Umur tanaman saat pertumbuhan awal dan memasuki fase pembungaan adalah umur di mana tanaman membutuhkan makanan dalam jumlah yang cukup sehingga saat itu harus dipupuk. Saat memupuk harus memperhatikan keadaan tanah. Jika tanah terlalu kering (pecah-pecah) maka pupuk tidak akan segera larut dan tidak dapat segera digunakan tanaman. Sebaliknya jika terlalu basah (tergenang) pupuk akan cepat larut dan hilang (terhanyut) dari prakaran tanaman. Keadaan tanah yang baik adalah tanah dalam keadaan lembab. Sedangkan cara memupuk yang terbaik adalah dengan membenamkan pupuk dekat  prakaran tanaman, agar pupuk tidak mudah hilang dan segera digunakan tanaman. Petani dilatih juga bagaimana cara menimbang pupuk untuk skala 1 ha dan bagaimana menimbangnya untuk setiap individu tanaman. 

    Dalam kegiatan pelaksanaan bimtek ini, tim penyuluh BPTP Papua Barat mengukur tingkat pengetahuan dan ketrampilan petani dalam menerima materi pendampingan dan efektifitas peyampaian materi bimtek dengan cara menyampaikan kuisioner sebelum materi bimbingan dan setelahnya. Hal ini penting untuk merancang bentuk-bentuk kegiatan pendampingan yang efektif pada petani lokal. Petani menunjukkan antusiasme dan partisipasi yang tinggi selama belarsungnya kegiatan bimbingan.

    Dengan pendekatan komunal dan intensif untuk membangun dan memotivasi petani lokal yang terlibat sebagai koperator, diharapkan dapat mengubah pola pikir petani lokal sehingga dapat mendorong trasformasi budaya petani tradisional menjadi petani yang mau menerima dan menerapkan inovasi teknologi. Hal ini sudah mulai tampak hasilnya, yaitu mulai terbangunya semangat partisipasi dan swadaya petani lokal selama proses kegiatan denfarm.

     

     

    READ MORE