• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

Optimalisasi Penggunaan APAR Pada Tanggap Darurat Kebakaran

BPTP Papua Barat mengadakan kegiatan peningkatan pemahaman dan pelatihan fungsi serta pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) pada Kamis (24/09). Narasumber pada kegiatan kali ini adalah personil Damkar Kantor Otoritas Bandara Rendani Roger Umboh.

Adapun tujuan kegiatan ini agar personil BPTP memahami konsep Perencanaan Tanggap Darurat (Emergency Response Plan) secara efektif sehingga pengendalian bisa dilakukan secara cepat dan tepat pada saat terjadi kebakaran. Selain itu, mencegah kesimpang-siuran dalam menghadapi keadaan emergency (tidak gugup atau panik) pada saat terjadi kebakaran.

Alat Pemadam Api Ringan (Fire Extinguisher) atau biasa disingkat dengan APAR merupakan alat perlindungan kebakaran aktif yang digunakan untuk memadamkan api atau mengendalikan kebakaran kecil. Kita kerap melihat benda ini dengan tabung merah tergantung pada pintu-pintu darurat bangunan-bangunan seperti perkantoran, mall, toko, maupun tempat-tempat lain tapi kurang memiliki pemahaman tentang fungsi dan cara menggunakannya.

“Pada saat memadamkan api dengan APAR pastikan kita pada posisi dan jarak yang tepat,” kata Roger. “Pastikan APAR berisi kemudian perhatikan juga arah angin untuk melihat sudut pemadaman yang efektif dan semprotkan terfokus ke sumber titik api” tambahnya pula.

Pada pelatihan ini Roger menyampaikan materi tentang pengetahuan dasar api, perlengkapan dan peralatan pemadam, jenis-jenis APAR dan penempatannya, serta penanggulangan bahaya kebakaran, dll. Kegiatan juga dilanjutkan dengan simulasi pemadaman api menggunakan APAR secara langsung oleh peserta. Roger menutup materi dengan menyatakan bahwa keterampilan personil sama pentingnya dengan tersedianya alat pemadam kebakaran yang memadai pada suatu bangunan.

Paket Teknologi Padi Sawah di Provinsi Papua Barat

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dalam kurun waktu kurang lebih 39 tahun (1978 - 2019) telah melepas 131 varietas padi yang terdiri dari 106 varietas padi inbrida untuk lahan sawah, 18 varietas padi inbrida untuk lahan kering (gogo), 11 varietas padi inbrida untuk lahan rawa, dan 19 varietas padi hibrida untuk lahan sawah (Balai Besar Padi, 2019). 

Varietas padi untuk lahan sawah masih sangat populer untuk dikembangkan karena memang cukup strategis. Ekosistem sawah masih memiliki potensi hasil yang lebih besar dibandingkan dengan ekosistem lain untuk mendukung budidaya padi. Akan tetapi, mengingat variasi agroekosistem yang tinggi di Indonesia termasuk di Papua Barat, tersedia juga varietas padi untuk lahan kering (gogo) dan varietas yang toleran cekaman lingkungan tumbuh seperti varietas Amfibi. Varietas ini diintroduksi oleh BPTP Papua Barat dan kini mulai dikembangkan petani pada tahun 2019 ini.

Budidaya padi sawah sangat sarat teknologi dari hulu sampai hilir. Seakan pelan tapi pasti, teknologi-teknologi ini mulai dilongok dan diadopsi oleh petani padi di Papua Barat. Sebut saja penggunaan varietas unggul. Petani menaruh minat yang tinggi terhadap varietas unggul yang dirilis oleh Badan Litbang seperti Cigeulis, Ciherang, Mekongga, Inpari 30, dan Inpari 32.

Selain varietas, teknologi sistem penanaman juga diadopsi oleh petani. Teknologi ini telah teruji dapat meningkatkan produktivitas bervariasi dari 9,63% hingga 25,17%. Di Papua Barat, aplikasi sistem jarak tanam jajar legowo sudah pernah dicobakan dengan hasil legowo 4:1 memberikan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam legowo yang lain tetapi dengan modifikasi penerapan sistem tanam legowo menggunakan jarak tanam yang lebih rapat (20 cm x 20 cm) dan tidak ada tanaman sisipan pada tanaman pinggir. Sedangkan jarak tanam pada sistem jarak tanam legowo yang diperkenalkan adalah 25 cm x 25 cm dengan tanaman sisipan pada tanaman pinggir (Subiadi dan Sipi, 2015).

Selain teknologi budidaya dan sumberdaya diatas, teknologi lainnya yang telah diadopsi oleh petani meliputi penggunaan alat dan mesin pertanian. Sebut saja penggunaan traktor/cultivator; alat tanam padi (transplanter); dan mesin panen padi (combine harvester). Modernisasi pertanian terwujud melalui efisiensi waktu dan tenaga untuk pekerjaan yang dulunya dilakukan secara manual seperti untuk mengolah tanam, menanam, dan panen. Yang terakhir untuk teknologi pascapanen di daerah ini petani telah menggunakan RMU (Rice Milling Unit) yang sangat mempermudah penggilingan padi atau proses pengolahan gabah menjadi beras karena dapat dilakukan dalam satu kali proses (one pass process).

 

Lumbung Pangan Nasional Food Estate Kalteng

Indonesia berupaya mewujudkan cita-citanya sebagai negara swasembada dan mandiri pangan. Salah satu langkah yang diambil untuk mewujudkannya pada tahun 2020 yaitu dengan menggarap program Food Estate di Provinsi Kalimantan Tengah. Program ini rencananya akan dilaksanakan di dua kabupaten di Kalimantan Tengah yaitu Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas.

Adapun latar belakang dari program Food Estate Kalteng yang disampaikan Pemerintah melalui Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko yaitu kecenderungan luas lahan yang makin menciut sehingga perlu disubstitusi dengan lahan baru. Ditambah lagi, populasi penduduk yang terus bertambah dari tahun ke tahun yang meningkatkan kebutuhan pangan. Selain itu, kondisi musim saat ini juga tidak bisa diatur dan diprediksi. Oleh karena itu, sangat perlu untuk menyiapkan cadangan logistik nasional sedini mungkin.

Program food estate merupakan arahan langsung Presiden Joko Widodo untuk mempersiapkan dan mengantisipasi krisis pangan yang diprediksi akan melanda dunia oleh Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Pengembangan food estate ini melibatkan sinergi tiga kementerian yakni Kementerian Pertanian, Kementerian PUPR, dan Kementerian Pertahanan.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa food estate itu adalah program terintegrasi, mencakup tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan. Untuk sekarang, yang didahulukan adalah sawahnya, kemudian yang lain akan menyusul.

Khusus pada 2020 ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian melakukan intensifikasi pertanian di lahan seluas 30.000 hektar agar lahan tersebut segera ditanami padi demi mengejar musim tanam Oktober 2020 - Maret 2021.

Rencananya, pengelolaan Food Estate Kalteng akan sarat dengan teknologi. Beberapa hal yang mendukung program ini menurut Kementerian Pertanian antara lain: telah tersedia irigasi primer, sekunder, dan tersier untuk lahan penanaman; telah disiapkan alat berat dan traktor (sebanyak 160 unit) untuk pengolahan lahan; menggunakan drone untuk menabur benih padi (kebutuhan benih 40-50 kilogram per hektar); demikian juga dengan pemanenan diharapkan dapat dilakukan dengan intervensi teknologi nantinya (JN).

 

Identifikasi Dini Covid-19 BPTP Papua Barat

Jumlah orang yang positif terinfeksi virus Corona (COVID-19) di Indonesia terus bertambah dari hari ke hari. Per tanggal 20 September 2020 diketahui ada sebanyak 244.676 orang terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia.

Demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19, Badan Litbang Pertanian menginstruksikan kepada seluruh Unit Kerja (UK) dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawahnya untuk pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 di UK/UPT masing-masing dan mengambil langkah-langkah pencegahan serta identifikasi dini Covid-19 di masing-masing satuan kerjanya.

Demikian pula dengan BPTP Papua Barat sebagai salah satu unit di dalam naungan Balitbangtan, melakukan identifikasi dini penyebaran Covid-19 di lingkungan kerja dengan melakukan Rapid Test untuk semua pegawai dan tenaga honorer yang berjumlah 39 orang pada Senin 21/09/2020. Kabar melegakannya, hasil pemeriksaan seluruh staf dinyatakan negatif (non reaktif) dari infeksi virus sehingga tidak diperlukan adanya pemeriksaan lanjutan.

Seluruh keluarga besar BPTP Papua Barat berharap agar seluruh masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan karena pandemi belum berakhir. Dengan demikian, kita semua berharap Covid-19 dapat segera mereda dan kondisi kesehatan semakin membaik. (JN)

 

Untuk Lihat Potensi, Staf Khusus Mentan Kunjungi Papua Barat

Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Pembangunan Pertanian, Bapak Yesiah Ery Tamalagi, SE melakukan kunjungan kerja ke Papua Barat pada hari Selasa (01/09/2020). Kunjungan kerja tersebut dalam rangka menggali potensi yang ada untuk disampaikan ke Menteri Pertanian, Dr. Syahrul Yasin Limpo, S.H., M.H.

Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari, drh. Purwanta, M.Kes, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat, Ir. Demas Wamaer, MP serta Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Manokwari, Lukas Saiba, SST menyambut baik sekaligus mendampingi kegiatan kunjungan kerja tersebut. Bapak Yesiah mengunjungi seluruh instansi lingkup Kementerian Pertanian dan juga kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kabupaten Manokwari.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah kantor Stasiun Karantina Pertanian kelas II Manokwari. Dalam kunjungannya, beliau menerima beberapa informasi mengenai kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilakukan. Salah satu yang menjadi perhatian beliau adalah wilayah kerja SKP kelas II Manokwari yang beberapa sulit untuk dijangkau, sehingga tidak semua kabupaten dapat terlayani.

BPTP Papua Barat menjadi lokasi kedua dalam kunjungan kerja tersebut. Bapak Yesiah masuk ke Laboratorium pengujian untuk melihat layanan yang ada. Beliau menyampaikan bahwa layanan jasa seperti laboratorium ini penting dalam standarisasi mutu hasil pertanian. Beliau juga berpesan bahwa kurangnya personil yang menyebabkan bertambahnya jam kerja merupakan bentuk tanggungjawab kerja dan merupakan panggilan kerja. Sebelum meninggalkan BPTP Papua Barat, Bapak Yesiah juga menyempatkan diri untuk berkeliling ke Kebun Percobaan.

Lokasi ketiga yang dikunjungi yakni Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kabupaten Manokwari untuk mengetahui sejauh mana berjalannya program Kostratani. Beliau juga bertemu dan berdikusi dengan Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) terkait kendala-kendala yang dihadapi petugas lapang.

Polbangtan Manokwari merupakan lokasi terakhir yang di kunjungi oleh bapak Yesiah, beliau berkeliling ke seluruh area kampus tersebut. Beliau juga menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan dosen-dosen di Polbangtan Manokwari.