• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

Bimtek Online Series "Menembus Peluang Bisnis Pepaya Merah Delima di Tanah Papua"

Selasa (9/11/21) Bptp Balitbangtan Papua Barat, menyelenggarakan Bimtek Online Pepaya Merah Delima dengan tema "Menembus Peluang Bisnis Pepaya Merah Delima di Tanah Papua". Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Hilirasi Inovasi Teknologi Balitbangtan di Provinsi Papua Barat. Komoditas pepaya merah delima dipilih sebagai tema karena merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan yang dihasilkan balitbangtan dan pengembangan di Papua Barat sudah relatif lama yaitu sejak tahun 2015. Pepaya merah delima memiliki berbagai keunggulan dibandingkan pepaya lokal ataupun impor lainnya yaitu daging buah yang tebal, rasa manis, aroma tidak menyengat serta daya simpan yang relatif lama. Bimtek ini diikuti oleh peserta umum dari penyuluh pertanian, petani, peneliti, pelajar/mahasiswa, ibu-ibu rumah tangga dan masyarakat anggota BKOW Papua Barat. 

Kegiatan bimtek ini dibuka oleh Ka.BPTP Papua Barat, Zainal Abidin, SP., MP dengan penekanan bahwa inovasi teknologi harus selalu dilaksanakan. Masyarakat harus dapat merasakan manfaat dari kehadiran BPTP dengan berbagai inovasi teknologi pertanian. Senada dengan Ka.BPTP, Ibu Lani Lakotani, S.Pd selaku ketua BKOW Provinsi Papua Barat juga mengapresiasi sepak terjang BPTP yang mau turun langsung dengan menyebarluaskan inovasi teknologi pertanian khususnya pepaya merah delima. Harapan yang disampaikan adalah kerjasama yang sudah terbina sejak 2018 tetap dilanjutkan dan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat luas. 

Pemateri dari kegiatan Bimtek ini adalah Sostenes Konyep, SP yang menyampaikan materi tentang Inovasi Teknologi Budidaya Pepaya Merah Delima mulai dari cara persemaian bibit sampai dengan proses panen. Ia bersama tim penyuluh juga akan sangat siap untuk membantu apabila peserta bimtek ingin mengetahui lebih detail mengenai pepaya merah delima.

Materi yang kedua disampaikan oleh Septinus Wariki, Petani Milenial (Anggota JPN Papua Barat) mengenai cerita Sukses Menjadi Petani Pepaya Merah Delima. Materi dikemas dalam format panelyang dikembangkan menjadi diskusi interaktif yang dimoderatori oleh Muh. Fathul Ulum Ariza, SP., M.Si agar diskusi dapat berjalan dengan dinamis, menarik minat, menyegarkan dan tidak membosankan bagi peserta. Salah satu hal yang menarik, ia dapat memasarkan hasil panen pepaya merah delima ke beberapa swalayan besar di kota Manokwari dan Sorong.

Dalam Bimtek ini juga hadir Ibu Tri Budiyanti, Peneliti yang mengembangkan Pepaya Merah Delima dari Balitbu, Solok, Sumatera Barat. Beliau menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya bagi tim BPTP Papua Barat beserta petani dan masyarakat yang sudah mengembangkan Pepaya Merah Delima. Ke depan beliau menyampaikan akan memprioritaskan pengadaan benih karena sudah melihat hasil nyata yang dilaksanakan oleh teman-teman. 

Peserta bimtek sangat antusias merespon materi yang disampaikan dengan berdiskusi tentang peluang dan rencana pengembangan pepaya merah delima di daerah peserta bimtek. Sebagian peserta mengapresiasi kiat-kiat usaha dari Septinus Wariki dalam membudidayakan pepaya merah delima sehingga bisa berhasil menembus pasar supermarket, pasar lokal bahkan mampu menembus di beberapa kabupaten yang ada di Papua Barat. Acara diakhiri pembingkaian dari Ka.BPTP yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta bimtek khususnya dari BKOW Papua Barat. Penutupan bimtek oleh host dengan dilakukan pembagian doorprize bagi peserta bimtek yang terpilih.

Benih Pepaya Merah Delima sebagai Media Pembelajaran bagi Siswa Sekolah Dasar untuk Mempersiapkan Generasi Muda yang Cinta Pertanian Di Masa Depan

Engkau boleh membengkokkan sebatang pohon yang masih muda kebentuk mana saja yang engkau inginkan, dan kalau dibiarkan, pohon muda itu akan terus bertumbuh sebagaimana yang engkau bengkokkan dan menjadi pohon yang salah bentuk dan akan selalu menuntut kesalahan tanganmu karena telah menyebabkannya menjadi cacat dan menderita. Engkau boleh sesudah bertahun-tahun pertumbuhan berusaha untuk meluruskan pohon itu, tetapi segala usahamu akan terbukti sia-sia. Pohon itu tetap bungkuk untuk selama-lamanya. Inilah kasus yang sama sama dengan anak-anak. Mereka harus dilatih dengan sangat hati-hati dan teliti pada masa anak-anak. Mereka dapat dilatih kearah yang benar atau salah. Kebiasaan yang dibentuk pada masa muda akan bertumbuh dengan pertumbuhan dan dikuatkan dengan kekuatan demikian seterusnya.

Dalam kaitan dengan kutipan diatas, dan untuk membentuk pola pikir anak-anak sejak dini agar mencintai pertanian dan mendekatkan inovasi kepada pengguna; BPTP Balitbangtan Papua Barat kembali menyerahkan sebanyak 50 polibek tanaman pepaya merah delima kepada SD N 8 Arfai. Penyerahan benih dilakukan oleh Sostenes Konyep, SP sebagai Penanggung Jawab Kegiatan Perbenihan Pepaya Merah Delima dan diterima Kepala Sekolah Tiarsem Sinaga, S.Pd. Pada kesempatan itu Konyep berpesan agar benih ini bisa menjadi wahana pembelajaran bagi anak-anak untuk mencintai pertanian sejak dini, belajar merawat dan nantinya diharapkan akan lahir generasi muda yang cinta akan pertanian.  Pada kesempatan itu, pihak sekolah melalui Kepala Sekolah menyampaikan terima kasih kepada BPTP Papua Barat atas inisiasi untuk menyerahkan pepaya merah delima dan berjanji untuk merawatnya sebaik mungkin.

Diharapkan 8 bulan kedepan, anak-anak sudah dapat memanen dan mengkonsumsi buah pepaya merah delima baik sebagai buah segar maupun dalam bentuk jus buah. Adapun beberapa manfaat dari mengkonsumsi buah pepaya : 1 )Antikanker karena mengandung likopen untuk mengurangi risiko antikanker, 2) Meningkatkan kesehatan jantung, 3) Meredakan peradangan, mengandung antioksidan untuk membantu imflamasi, 4) Menyehatkan pencernaan, mengatasi sembelit dan kembung.

 

Demikian harapan dan disertai usaha dan doa benih pepaya merah delima  yang ditanam dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal. Penyerahan benih dan diskusi pagi itu ditutup dengan menyampaikan pesan Menteri Pertanian,  Syahrul Yasin Limpo untuk menghadirkan “Pertanian Dalam Segenap Aspek Kehidupan Kita”,  “Bertani itu Hebat, Petani Itu Keren”.

 

Pengembangan Kopi Arabika “Secercah Harapan Dibalik Kabut Pegunungan Arfak”

Pegunungan Arfak adalah salah satu Kabupaten di Papua Barat yang dapat dijangkau dengan perjalanan darat 3-4 jam dari pusat kota Manokwari dengan menggunakan kendaraan off-road karena medan jalan mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Medan yang cukup sulit dan menantang ini tidak menyurutkan semangat perjalanan tim perbenihan kopi untuk mencari jejak pendahulu kami yang pernah menyebar benih kopi arabika dan membawah secercah harapan baru bagi calon petani kopi sebagai sumber kehidupan bagi negeri ini.

Pilihan daerah ini sebagai calon petani dan calon lokasi tidak terlepas dari ketinggian tempat, suhu udara dan curah hujan yang sesuai untuk tumbuh dan berkembangnya kopi arabika. Curah hujan di wilayah Kabupaten Pegunungan Arfak  termasuk dalam tipe iklim A  karena semua bulan merupakan bulan basah dengan curah hujan >100 mm. Suhu udara minimum 27,08 oC, sedangkan suhu maksimum 27,80 oC dengan rata-rata suhu udara adalah 27.49 oC, rata-rata kelembaban udara adalah 84,07%. Ketinggian tempat berkisar antara ± 15-2940 m dpl.

Pertemuan dan diskusi bermula dari Pilipus Ancey salah satu petani tokoh, dapat kami peroleh informasi bahwa masyarakat Arfak lebih khusus yang berada di Tepi Danau Perempuan Kampung Tombrok Distrik Anggi Gida mempunyai antusiasme yang sangat tinggi untuk menanam kopi. Di Kampung ini ada sebanyak 12 anggota kelompok yang mau mengembangkan kopi disamping tanaman kopi yang sudah ditanam sebelumnya pada tahun 2019. Permintaan benih diKampung ini sebanyak 5000 benih kopi.

Kami kemudian beranjak untuk menemui salah satu petani yang juga Sekretaris Distrik Anggi Gida, Levianus Toansiba.  Levianus  juga menanam kopi dan telah mendapat hasil dari penjualan biji kopi. Dari Sekretaris Distrik, Levianus Toansiba, kami mendapat banyak informasi untuk pengembangan kopi yang sementara dikerjakan yang akan didistribusi tahun 2022 nanti. Pemerintah daerah telah menetapkan Kabupaten Pegunungan Arfak sebagai sentra penghasil kopi Provinsi Papua Barat adalah alasan masyarakat tertarik untuk menanam kopi arabika. Oleh karenanya Sekretaris Distrik berharap untuk membantu petaninya melalui ide-ide dan pengalaman kreatif dalam pengembangan kopi didaerahnya. Masyarakat Distrik Anggi Gida siap menerima bantuan benih kopi yang akan diberikan BPTP Papua Barat kerjasama dengan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Ambon Ditjen Tanaman Perkebunan. Bapak dorang jangan tinggalkan kami kalau sudah kasih benih kopi, kami perlu di dampingi sampai tanaman kami berbuah; demikian sepenggal harapan yang diungkapkan dengan kata-kata saat mengakhiri perbincangan kami siang itu di Distrik Anggi Gida.

Selanjutnya tim yang dipimpin Penanggung jawab perbenihan kopi, Sostenes Konyep, SP menyusuri tepian danau laki-laki/Anggi dan menemui Kelompok Fajar Tani Mauro Star Distrik Anggi yang mana kelompok tani ini sangat antusias menerima kehadiran kami untuk mengembangkan kopi arabika di Kampungnya. Di Kampung Testega Pama kami bertemu dengan Wellem Lougb bersama Saudara Perempuannya, yang begitu bersemangat untuk menanam kopi. Sedangkan di Kampung Susi kami diterima Kepala Kampungnya, Agustinus Indow yang menyediakan lahannya seluas 1 ha untuk mengembangkan kopi.

Dari Distrik Anggi, kami melanjutkan perjalanan ke Distrik Hink untuk menggali informasi lagi. Di Distrik ini kami menemui Ibu Kampung Hink yang menyatakan siap menerima benih yang akan disebar oleh BPTP.

Dari beberapa titik yang bisa dijangkau, dan hubungan lewat telepon seluler para penggiat kopi Pegunungan Arfai secara umum kami melihat minat dan antusiasme  yang tinggi dari  masyarakat untuk mengembangkan kopi arabika di Kabupaten Pegunungan Arfak.

Direncanakan benih yang akan disebar di Kabupaten pegunungan Arfak sebanyak 15.000  dengan luasan sekitar 15 ha. Rata-rata produktivitas sekitar 750 kg/ha / tahun. Namun bila dirawat dengan optimal produksi kopi dapat mencapai 2000 kg/ha/tahun. Kopi arabika dapat berbuah pada umur 2-4 tahun dan puncak produksi akan terjadi saat tanaman berumur 7-9 tahun. Harga kopi arabika tercatat 60.000/kg dan 100.000/kg untuk kualitas terbaik. Produksi perpohon sekitar 1,7 kg bahkan bisa mencapai 2,5-3 kg/pohon. Dengan jarak tanam sekitar 3 x 3 meter dalam 1 hektar akan membutuhkan benih sebanyak 1.089 polibek maka pada umur 5-6 tahun dengan asumsi produksi 1,7 kg/pohon maka produksi tanaman kopi mencapai 1.851,3 kg/ ha.

Dengan secercah harapan yang terukir di lubuk hati yang paling dalam dan terucap lewat kata-kata.  Saudara-Saudari di Pegunungan Arfak menanti kehadiran tangan-tangan yang akan menggali dan mengangkat potensi yang ada dan menyongsong harapan baru untuk kejayaan pangan negeri ini sesuai slogan Kementerian Pertanian dibawah Kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo Pertanian Maju Mandiri dan Modern.

 

Memperingati Hari Pangan Sedunia, BPTP Papua Barat Lakukan Aksi Pangan

Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat melakukan aksi pangan sosial dengan memberikan bantuan ke Panti Asuhan yang ada di Sorong dan Manokwari pada Senin (25/10/2021).

Yayasan Alhijrah Putra/Putri Paula Muslim yang terletak di Distrik Aimas, Kabupaten Sorong menjadi lokasi pertama dalam menerima bantuan. Bantuan tersebut langsung diberikan oleh Kepala BPTP Papua Barat, Zainal Abidin, SP, MP. Bantuan berupa sembako yang terdiri dari beras, mie instan, air minum, telur, susu, minyak, gula. Selain bantuan sembako diberikan pula benih jeruk sebanyak 50 pohon yang berjenis siam banjar dan siam pontianak. Benih-benih jeruk yang diberikan juga langsung ditanam di pekarangan panti bersama-sama.

Lokasi kedua yaitu Panti Asuhan Yayasan Semi Metta Bahagia yang berada di Distrik Masni Kabupaten Manokwari. Bantuan berupa sembako langsung diberikan pula oleh Kasubag Tata Usaha BPTP Papua Barat, Ida Ruyadi, S.Sos. Bantuan benih yang diberikan adalah benih pepaya merah delima sebanyak 50 pohon sekaligus dilakukan juga penanaman secara langsung bersama-sama.

Harapannya bantuan-bantuan yang diberikan kepada saudara-saudara kita dapat bermanfaat dan sedikit membantu kehidupan mereka. Benih-benih yang diberikan dan sudah ditanam juga dapat tumbuh dengan baik sehingga juga dapat memberikan manfaat bagi mereka.

 


 

Bimtek Budidaya Pepaya untuk Masyarakat Lokal

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat melakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) mengenai budidaya pepaya merah delima kepada masyarakat lokal pada 23 Oktober 2021 di Kampung Mansinam yang berada di Pulau Lemon, Manokwari.

BPTP Papua Barat terus memberikan dorongan kepada petani lokal untuk dapat melakukan budidaya pertanian melalui bimbingan teknis tersebut. Kegiatan ini bekerja sama dengan persatuan wanita kristen indonesia (PWKI) yang merupakan organisasi dibawah naungan Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Papua Barat.

Acara dibuka oleh Ibu Lani Lakotani, selaku Ketua BKOW Papua Barat. Beliau menyampaikan bahwasanya sebagai wanita kita harus bisa mandiri. Selain untuk mengurus rumah tangga, kita juga bisa menanam sehingga dapat pula memberikan manfaat dalam memenuhi gizi rumah tangga.

Materi bimbingan teknis diberikan oleh Penyuluh BPTP Papua Barat Muh. Fathul Ulum Ariza SP, MSi dan Arya Bima Senna, SP. Materi yang diberikan tentang penyemaian benih, tatacara penanaman, hingga perawatan pepaya merah delima. Salah satu tujuan bimtek adalah nantinya masyarakat dapat melakukan budidaya pepaya merah delima setidaknya dalam skala rumah tangga untuk kebutuhan sendiri. Terlebih apabila nanti bisa menjadi pemasukan tambahan masyarakat lokal tersebut.

Setelah acara bimtek, dilanjutkan dengan pemberian bantuan berupa 100 benih pepaya merah delima kepada ibu rumah tangga di pulau lemon untuk ditanam di pekarangan rumah masing-masing sehingga apabila nanti berbuah, dapat membantu memenuhi gizi masyarakat di pulau lemon.