• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

Neney Siap Menjadi Sentra Kopi di Kabupaten Manokwari Selatan

Untuk mengetahui secara langsung kondisi petani dilapangan, kondis lahan dan iklim, perlu dilakukan verifikasi CPCL. Verifikasi CPCL penerima benih kopi arabika kali ini dilakukan di Distrik Neney Kabupaten Manokwari Selatan yang  berada pada 1400 m dpl. Jarak yang ditempuh dari Manokwari sekitar 3 jam perjalanan.

Turut dalam kunjungan verifikasi CPCL Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Manokwari Selatan, Moehamad Amir yang di dampingi Kepala Bidang Perkebunan Yoram Inden dan staf bidang Perkebunan.

Menurut Kadis, Distrik Neney telah dipetakan sebagai sentra pengembangan kopi di Kabupaten Manokwari Selatan. Harapannya dengan fokus pada satu komoditas, pengembangannya dapat dilakukan dengan baik demi peningkatan kesejahteraan petani. Tugas dinas adalah menyiapkan sarana dan prasarana pendukung hingga kopi ditanam kemudian dirawat sedangkan tugas BPTP adalah menyediakan benihnya.

Atas nama pemerintah daerah, Moehamad Amir berterima kasih dimana BPTP Papua Barat telah menginisiasi untuk mengembangkan kopi diwilayahnya. 

Tim perbenihan kopi dipimpin Sostenes Konyep, SP memberikan penjelasan kepada Kepala Kampung dan warga masyarakat yang hadir tentang rencana pengembangan kopi arabika tahun 2022. Benih sementara dalam tahap pengerjaan, kalau tidak berhalangan, setelah disertifikasi dan siap, tanaman akan disebar bulan Agustus atau September 2022. Rencana sebanyak 5000 benih yang akan disebar di Distrik Neney. 

Sementara itu lokasi yang akan dijadikan sentra kopi adalah Kampung Arya Wemoho. Kampung ini ada sekitar 300 KK. Kehadiran tim di terima Kepala Kampung Esra Bosimyei. Setelah mendengar tujuan kunjungan kami, Bosimyei sangat senang bahwa Kampungnya akan dijadikan sentra kopi di Kabupaten Manokwari Selatan dan berharap pendampingan yang kontinyu dari Dinas maupun LSM agar benih yang nantinya ditanam dapat memberikan hasil bagi masyarakat. Menurutnya, kopi sudah dikenal dikampungnya mulai tahun 1980-an yang dibawah seorang Misionaris namun tidak dibudidayakan dengan baik karena masyarakat belum tahu bagaimana budidaya kopi yang baik. Di Kampungnya sudah ada 6 kelompok yang terbentuk sehingga Kepala Kampung berharap benih yang nantinya diturunkan di Kampungnya sebanyak 6000 batang. Kepala Kampung sangat berharap berita baik/sukacita ini dapat sampai pada tahap benih itu dapat didistribusi ke Kampungnya dan diterima warganya. Nama-nama anggota kelompok dan luasan lahan akan dilaporkan pada kami pada kesempatan pertama.

Dengan melihat antusiasme dan semangat Kepala Kampung beserta masyarakat yang hadir siang itu kami sangat optimis, Neney akan menjadi sentra kopi di Kabupaten Manokwari Selatan 5 tahun mendatang.

Diakhir cerita siang itu, Esra Bosimyei berujar; barang ada dulu, baru kami coba buktikan, maka Jangan berpaling ke lain hati, kami akan coba membuktikan semangat kami.

Perbincangan siang itu diakhiri... Selamat berpisah untuk bertemu kembali.

 

 

Sertifikasi Prima-3 Untuk Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) yang Aman untuk Dikonsumsi

Peraturan Menteri Pertanian Nomor  53/Permentan/OT.040/12/2018 tentang Keamanan dan Mutu Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) mengatur regulasi yang dijabarkan secara rinci Subyek, Obyek dan mekanisme pengendalian dan pengawasan keamanan dan mutu pangan segar asal tumbuhan. Sesuai Permentan 53, Badan Ketahanan Pangan dan Organisasi perangkat daerah lingkup pangan sebagai unit kerja di Kementerian Pertanian atau pemerintah daerah sesuai tugas dan fungsinya diberi kewenangan untuk melakukan pengawasan keamanan dan mutu pangan segar asal tumbuhan (PSAT).

Adapun tugas OKKP-D: 1). Melakukan pengawasan terhadap keamanan dan jaminan mutu produk pangan segar asala tumbuhan yang beredar, berisiko tinggidan atau yang dikemas dan berlabel, 2). Melakukan sertifikasi produk panagan segar asal tumbuhan Prima 2, Prima 3

Oleh karena itu pada hari Jumat, 19 November 2021 bertempat di Gedung Pertemuan Badan Ketahanan Pangan dilaksanakan Rapat Komisi Teknis OKKP-D Provinsi Papua Barat yang dibuka Ketua OKKP-D, Lazarus Ullo, SP, M.Si yang berharap rapat ini bisa dilaksanakan dengan baik sebagai bentuk tanggung jawab OKKP-D dalam memberikan sertifikat prima- 3 bagi petani / pelaku usaha sehingga nantinya produk yang sampai dipasar dan dikonsumsi masyarakat adalah yang aman dan bebas dari residu pestisida.

Selanjutnya rapat dipimpin Ketua Komtek, Dr. Ir Anton Suparno, M.Sc, dan dihadiri para anggota: Mathelda Roreng S.TP, M.Si, Dr. Murtiningrum S.TP, M.Si, Ir. Budi Santoso MP, P.hD dan Sostenes Konyep, SP, Kepala Bidang Keamanan Pangan, Kepala Balai Pengawasan Mutu dan Keamanan Pangan dan para kepala seksi sebagai tim auditor.

Sertifikasi prima- 3 (produk pangan bebas dari residu pestisida) dilakukan terhadap 8 Petani dan 4 komoditas dari Kabupaten dan Kota Sorong antara lain : Ahmad Zaini Komoditas  Tomat, Sumino Komoditas Jeruk Manis, I Wayan Kawit Komoditas Buah Naga, Saruji Komoditas Buah Naga, Ayik Kartono komoditas Jambu Kristal, Marno Komoditas Jambu Kristal, I Gede Adnyana Komoditas Jeruk Manis dan Ali Zainuddin Kamoditas Jambu Kristal.

Dari hasil uji terhadap sampel yang dikirim ke laboratorium terlihat bahwa kandungan bahan berbahaya dari pestisida pada sampel tidak terdeteksi sehingga petani yang tersebut diatas berhak memperoleh sertifikat prima 3 yang menyatakan komoditas tersebut aman untuk dikonsumsi.

Sementara itu masih belum sadarnya masyarakat akan bahaya residu pestisida merupakan suatu tugas berat yang diemban OKKP-D sehingga dalam kesempatan itu Ketua OKKP-D yang juga Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat berharap setiap komponen untuk berperan aktif melaksanakan tugas dan fungsinya secara maksimal. Beliau berharap kedepan, dengan adanya sosialisasi dalam setiap pendampingan, masyarakat akan semakin sadar bahaya penggunaan pestisida sehinga petani dan pelaku usaha melakukan setiap tahapan budidaya dengan baik.

Kolaborasi BPTP Papua Barat, Polbangtan Manokwari, dan BPP Manokwari Lakukan Bimtek Pepaya Merah Delima bagi Mama-mama Papua

Dalam rangka melaksanakan pengabdian kepada masyarakat untuk penguatan peran BPP Kostratani, bertempat di BPP Manokwari Rabu 24 November 2021 berlangsung bimtek bagi petani dan PPL. Kegiatan ini disponsori oleh Polbangtan Manokwari yang berkolaborasi dengan BPTP Balitbangtan Papua Barat.  Di hadiri 25 petani disekitar BPP Manokwari dan 10 PPL BPP Manokwari.

Kepala BPP Manokwari, Ir. Victor Tobing, dalam arahannya mengajak peserta untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas berkat dan rahmatnya bimtek kali ini bisa dilaksanakan dan berharap semua peserta tetap sehat dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Victor berharap, peserta yang hadir dapat memanfaatkan semua sarana yang dimiliki BPP karena BPP adalah rumah bagi petani dan penyuluh.  Untuk itu peserta yang  dapat memanfaatkan setiap informasi dan teknologi yang berkaitan dengan pertanian untuk mengangkat ekonomi Mama-Mama Papua. Pada kesempatan itu, Victor berharap para petani khususnya kelompok Mama-Mama Papua Mulyono dapat memanfaatkan lahan untuk bercocok tanam disamping untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga, sebagian bisa dipasarkan. Harapannya dengan bimtek ini dapat menambah wawasan pengetahuan yang nantinya bermanfaat bagi  usaha taninya.

Sementara itu bimtek kali ini menghadirkan narasumber dari Polbangtan Manokwari, Ir. La Hambui Semahu, MP dengan materi budidaya tanaman pepaya yang baik dan keuntungannya dari sisi ekonomi.

Narasumber dari BPTP Papua Barat, Sostenes Konyep, SP dengan materi inovasi teknologi pepaya merah delima dan prospek pasarnya di Manokwari. Agar tetap sehat dan kuat, ayo konsumsi buah pepaya, demikian tutur Konyep. Disamping itu dipaparkan langkah-langkah dalam budidaya pepaya merah delima agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Untuk memperoleh hasil berupa buah dan keuntungan finansial, mari kita menanam dan memanfaatkan setiap jengkal lahan kita dengan benih tanaman varietas unggul. Pada kesempatan itu diserahkan doorprize bagi peserta berupa tanaman pepaya dalam planterback bagi peserta yang dapat menjawab pertanyaan.

Tampak peserta sangat antusias memperhatikan setiap sesi pemaparan materi yang disampaikan. Acara bimtek yang dilanjutkan dengan praktik mempersiapkan benih pepaya yang baik dan menanam benih yang sudah dikecambahkan didalam polibek yang berisi media tanam tanah, pupuk kandang dan tandan sawit kosong. Ditempat yang sama diserahkan benih pepaya sebanyak 30 polibek untuk ditanam dilahan BPP Manokwari

Fince Kandewara, salah satu peserta yang hadir merupakan koordinator Mama-Mama Papua di Kompleks Mulyono mengaku sangat senang bisa mendapat pengetahuan tentang bercocok tanam pepaya merah delima yang baik dan berjanji untuk menerapkan ilmunya disamping mengajak teman-temannya sesama Mama-Mama Papua. Kandewara berujar untuk mengajak teman-temannya untuk merubah pola pikir kearah yang lebih baik dengan mengajak sesama Mama-Mama untuk memanfaatkan lahan BPP agar bercocok tanam pepaya merah delima dan sayuran.

Kegiatan bimtek ditutup Kepala BPP Manokwari, Ir. Victor Tobing yang mengucapkan terima kasih kepada panitia pelaksana, pemateri dan peserta khususnya Mama-Mama Papua yang sudah hadir pada bimtek kali ini.

Sinergi dan Kolaborasi Menekan Angka Stunting di Papua Barat

Pada hari Rabu (24/11/2021) Bptp Papua Barat menyelenggarakan Bimtek Online Series yang diikuti oleh peserta secara online sebanyak 65 peserta dari beberapa wilayah di Papua Barat dengan tema Sinergi dan Kolaborasi Menekan Angka Stunting di Papua Barat. Bimtek ini merupakan rangkaian kegiatan hilirisasi inovasi teknologi Balitbangtan. Tema tentang stunting sengaja diangkat sebagai rintisan kegiatan sinergi dan kolaborasi untuk menekan stunting di Papua Barat.

Kegiatan Bimtek dibuka oleh Bpk Zainal Abidin, SP., MP selaku Kepala BPTP Papua Barat, dalam sambutannya beliau menyampaikan pengantar tentang apa itu stunting dan upaya mengatasinya. Dalam sambutannya beliau menekankan bahwa Ir Nutrizinc merupakan salah satu solusi untuk mengatasi stunting di Indonesia. Selanjutnya Bpk Zainal membuka secara resmi kegiatan Bimtek Online Series.

Narasumber utama Bpk Andry Parinusa, SKM, M.Kes dari Bidang Pengelolaan Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat dengan materi tentang Potret dan Upaya Penanganan Stunting di Papua Barat. Paparan dari Bpk Andry menjelaskan tentang kondisi dan upaya dari dinas kesehatan yang telah berusaha memantau sejak dini kondisi anak-anak yang kekurangan gizi atau mengalami kondisi stunting melalui sebuah aplikasi yang dilaksanakan di tingkat puskesmas. Lebih lanjut Bapak Andry sangat mengapresiasi inovasi dari Balitbangtan tentang padi Nutrizinc untuk membantu mengatasi stunting di Papua Barat. 

Narasumber dari Balitbangtan adalah Bpk Subiadi, SP., M.Sc yang menyampaikan tentang Teknologi Varietas IR Nutrizinc Sebagai Salah Satu Solusi Mengatasi Stunting di Indonesia. Dalam paparannya dijelaskan tentang berbagai VUB (Varietas Unggul Baru) yang sudah dihasilkan oleh Balitbangtan, termasuk padi Ir Nutrizinc. Lebih lanjut, Bpk Subiadi juga menyampaikan tentang keunggulan padi IR Nutrizinc dibandingkan dengan padi jenis lain. Padi ini juga dapat dikembangkan di seluruh daerah sawah di Indonesia. Untuk pendistribusian benih harus melalui mekanisme produksi yang diawasi oleh BPSB Provinsi Papua Barat.

Narasumber yang selanjutnya adalah Bpk Mulyadi, S.ST selaku Kepala BPP Warmare yang memberikan testimoni tentang pengembangan padi IR Nutrizinc di Distrik Warmare. Bpk Mulyadi menjelaskan berbagai kelebihan dan kekurangan padi IR Nutrizinc dalam setiap tahapan penanaman. Hasil panen padi pada tahun 2021 termasuk baik dan kualitas rasa beras yang diolah sebagai nasi juga disampaikan termasuk pulen.

Diskusi dalam Bimtek Online yang dimoderatori oleh Bpk Muh Fathul Ulum Ariza, SP., M.Sc berjalan lancar, peserta memberikan apresiasi dan animo yang baik tentang pengembangan padi IR Nutrizinc. Adanya Hama dan penyakit serta solusinya dalam pengembangan padi IR Nutrizinc menjadi perhatian bagi peserta. Peserta bimtek juga banyak merespon tentang pangan lokal yang mengandung nutrisi yang dapat menggantikan padi sebagai bahan pokok. Selain itu peserta banyak menanyakan sejauh mana produksi benih padi Nutrizinc dan strategi yang diambil dalam menekan angka stunting di Papua Barat. Catatan akhir dari Moderator adalah sebagai berikut;

1. Surveliance langkah awal kebijakan dan advokasi lintas program dari berbagai stake holder dalam mengatasi stunting.

2. Pengetahuan tentang pengolahan bahan pangan bagi masyarakat khususnya Ibu-Ibu dalam menyediakan bahan pangan bagi keluarga dan pemberian makanan kepada balita dengan angka gizi yang cukup

3. Padi IR Nutrizinc merupakan produk dari Balitbangtan dan sudah diproduksi oleh BPTP Papua Barat di Kabupaten Manokwari dapat dipergunakan untuk mengatasi stunting.

4. Teknologi penanaman sesuai dengan penanaman padi jenis lain dan umurnya lebih genjah kurang lebih 10 hari dari padi jenis yang lainnya.

 

 

 

Temu Teknis dan Distribusi Benih Padi Sawah untuk Petani

BPTP Papua barat mendistribusikan lebih dari 5 ton benih padi sawah bersertifikat kepada petani yang terbagi pada tiga distrik di Manokwari. Proses sertifikasi sejalan dengan proses produksi gabah calon benih sampai dengan terbitnya hasil uji laboratorium dan sertifikat benih pada minggu ke-2 November 2021 dengan benih tersertifikasi sebanyak 5,8 ton, masing-masing 2,4 untuk varietas Mekongga, 2,4 ton untuk varietas Inpari 42, dan 1 ton untuk varietas Cigeulis. Dengan keluarnya sertifikat benih, maka benih yang dihasilkan sudah memenuhi syarat untuk didistribusi kepada petani padi sawah yang membutuhkan. Oleh karena itu dilaksanakan kegiatan temu teknis perbenihan untuk menginventarisasi jumlah petani dan jumlah kebutuhan benihnya.

Penyerahan benih padi dilakukan bersamaan dengan kegiatan Temu Teknis Perbenihan Padi Sawah yang diselenggarakan di Gedung Kesenian SP 1 (Prafi Mulya) pada Kamis (11/11/2021). Kegiatan tersebut dihadiri oleh 47 peserta, yang meliputi Kepala BPTP Papua Barat, Kepala Laboratorium Pengujian/Analisis Mutu Benih BPSB-TPH Provinsi Papua Barat. Kepala BPP Distrik Prafi, Kepala BPP Distrik Masni, PPL Distrik Prafi, Masni, dan Sidey beserta petani-petani padi sawah dari ketiga Distrik tersebut.

Benih tersebut mampu mencukupi luas lahan sekitar 232 hektar. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut : Pertama, Distrik Prafi mendapat benih sebanyak 2.080 kg, terdiri dari 840 kg varietas Mekongga, 840 kg varietas Inpari 42 dan 400 kg varietas Cigeulis. Kedua, Distrik Masni memperoleh benih sebanyak 1.620 kg, terdiri dari 740 kg varietas Mekongga, 760 kg varietas Inpari 42 dan 320 kg varietas Cigeulis. Ketiga, Distrik Sidey memperoleh benih sebanyak 1.900 kg, terdiri dari 800 kg varietas Mekongga, 820 varietas Inpari 42 dan 320 varietas Cigeulis. 

Untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada petani, hadir dalam Temu Teknis tersebut narasumber dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB TPH) Provinsi Papua Barat Victor Patabang. Sedangkan materi yang disampaikan adalah Prosedur Perbenihan Padi. 

Benih tersebut merupakan hasil kegiatan Produksi Benih Sumber Padi yang dilakukan BPTP Papua Barat TA. 2021 dan sudah memenuhi syarat untuk didistribusi kepada petani yang membutuhkan. Selain bertujuan untuk memperbanyak benih padi, tujuan lainnya adalah agar inovasi benih padi dapat lebih cepat sampai kepada petani. 

Dengan menggunakan benih padi ini diharapkan kendala kesulitan petani untuk mendapatkan benih padi dapat diatasi dan dapat meningkatkan produksi sehingga akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.