• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

Paket Teknologi Padi Sawah di Provinsi Papua Barat

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dalam kurun waktu kurang lebih 39 tahun (1978 - 2019) telah melepas 131 varietas padi yang terdiri dari 106 varietas padi inbrida untuk lahan sawah, 18 varietas padi inbrida untuk lahan kering (gogo), 11 varietas padi inbrida untuk lahan rawa, dan 19 varietas padi hibrida untuk lahan sawah (Balai Besar Padi, 2019). 

Varietas padi untuk lahan sawah masih sangat populer untuk dikembangkan karena memang cukup strategis. Ekosistem sawah masih memiliki potensi hasil yang lebih besar dibandingkan dengan ekosistem lain untuk mendukung budidaya padi. Akan tetapi, mengingat variasi agroekosistem yang tinggi di Indonesia termasuk di Papua Barat, tersedia juga varietas padi untuk lahan kering (gogo) dan varietas yang toleran cekaman lingkungan tumbuh seperti varietas Amfibi. Varietas ini diintroduksi oleh BPTP Papua Barat dan kini mulai dikembangkan petani pada tahun 2019 ini.

Budidaya padi sawah sangat sarat teknologi dari hulu sampai hilir. Seakan pelan tapi pasti, teknologi-teknologi ini mulai dilongok dan diadopsi oleh petani padi di Papua Barat. Sebut saja penggunaan varietas unggul. Petani menaruh minat yang tinggi terhadap varietas unggul yang dirilis oleh Badan Litbang seperti Cigeulis, Ciherang, Mekongga, Inpari 30, dan Inpari 32.

Selain varietas, teknologi sistem penanaman juga diadopsi oleh petani. Teknologi ini telah teruji dapat meningkatkan produktivitas bervariasi dari 9,63% hingga 25,17%. Di Papua Barat, aplikasi sistem jarak tanam jajar legowo sudah pernah dicobakan dengan hasil legowo 4:1 memberikan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tanam legowo yang lain tetapi dengan modifikasi penerapan sistem tanam legowo menggunakan jarak tanam yang lebih rapat (20 cm x 20 cm) dan tidak ada tanaman sisipan pada tanaman pinggir. Sedangkan jarak tanam pada sistem jarak tanam legowo yang diperkenalkan adalah 25 cm x 25 cm dengan tanaman sisipan pada tanaman pinggir (Subiadi dan Sipi, 2015).

Selain teknologi budidaya dan sumberdaya diatas, teknologi lainnya yang telah diadopsi oleh petani meliputi penggunaan alat dan mesin pertanian. Sebut saja penggunaan traktor/cultivator; alat tanam padi (transplanter); dan mesin panen padi (combine harvester). Modernisasi pertanian terwujud melalui efisiensi waktu dan tenaga untuk pekerjaan yang dulunya dilakukan secara manual seperti untuk mengolah tanam, menanam, dan panen. Yang terakhir untuk teknologi pascapanen di daerah ini petani telah menggunakan RMU (Rice Milling Unit) yang sangat mempermudah penggilingan padi atau proses pengolahan gabah menjadi beras karena dapat dilakukan dalam satu kali proses (one pass process).