• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

Buah Merah Buah Khas Papua

Buah Merah (Pandanus conoideus lamk.) adalah salah satu jenis tumbuhan dari marga Pandanus yang merupakan tanaman endemis yang hanya ditemukan di daerah Papua dan Papua New Guinea.

Menurut Hynman (1984) meliputi 12 kultivar dan penyebarannya cukup luas sampai 2300 m dpl, mulai dari lembah Baliem Wamena, daerah kepala burung dan daerah pedalaman lainnya di Papua (Pegunungan Arfak Manokwari, Pegunungan Jayapura dan Pegunungan Bintang).

Di Papua Buah merah merupakan potensi unggulan yang secara tradisional telah dimanfaatkan oleh masyarakat baik yang bermukim di daerah pantai maupun di pegunungan sebagai sumber lemak nabati (minyak Korotenoid). Minyak tersebut juga dipergunakan sebagai penyedap campuran makanan pokok misalnyasagu dan ubi jalar.Kandungan minyak dari buah merah cukup tinggi yaitu 35,9% per berat kering buah. Sedangkan kandungan asam lemaknya sama dengan komposisi asam lemak dari sebagian besar minyak goreng. Dengan demikian buah merah mempunyai prospek untuk dikembangkan sebagai sumber bahan minyak nabati, selain kelapa dan kelapa sawit.

Minyak dari buah merah adalah minyak yang berasal dari selaput ‘Jelly’ yang berwarna merah dan menempel pada bulir buah merah. Sampai saat ini cara pembuatan minyak buah merah oleh masyarakat Papua masih dilakukan secara tradisional, dimana tata cara pembuatannya masing-masing daerah berbeda.

Kandungan Nilai Gizi Buah Merah

Buah Merah (Pandanus conoideus lamk.) adalah salah satu jenis tumbuhan dari marga Pandanus yang merupakan tanaman endemis yang hanya ditemukan di daerah Papua dan Papua New Guinea. Menurut Hynman (1984) meliputi 12 kultivar dan penyebarannya cukup luas sampai 2300 m dpl, mulai dari lembah Baliem Wamena, daerah kepala burung dan daerah pedalaman lainnya di Papua (Pegunungan Arfak Manokwari, Pegunungan Jayapura dan Pegunungan Bintang).

Di Papua Buah merah merupakan potensi unggulan yang secara tradisional telah dimanfaatkan oleh masyarakat baik yang bermukim di daerah pantai maupun di pegunungan sebagai sumber lemak nabati (minyak Korotenoid). Minyak tersebut juga dipergunakan sebagai penyedap campuran makanan pokok misalnyasagu dan ubi jalar.Kandungan minyak dari buah merah cukup tinggi yaitu 35,9% per berat kering buah. Sedangkan kandungan asam lemaknya sama dengan komposisi asam lemak dari sebagian besar minyak goreng. Dengan demikian buah merah mempunyai prospek untuk dikembangkan sebagai sumber bahan minyak nabati, selain kelapa dan kelapa sawit.

Minyak dari buah merah adalah minyak yang berasal dari selaput ‘Jelly’ yang berwarna merah dan menempel pada bulir buah merah. Sampai saat ini cara pembuatan minyak buah merah oleh masyarakat Papua masih dilakukan secara tradisional, dimana tata cara pembuatannya masing-masing daerah berbeda.

Buah merah mengandung omega-3, omega-6 dan omega 9. Dari total lemak yang terkandung dalam buah merah, komposisi asam lemak oleat lebih banyak ditemukan yaitu sekitar 30% dari total lemak yang ada. Disamping itu mengandung antoksidan yang cukup tinggi diantaranya adalah Karotenoit dan Tokoferol 11.000 – 12.000 ppm. Serta kandungan mineral yaitu F2, mg, Ca dan Zn.

Senyawa lain yang terkandung dalam buah merah yaitu Beta-caroten mencapai 12.000 ppm atau 12 kali lebih tinggi dari kelapa sawit merah. Senyawa ini berfungsi mencegah terjadinya kebutaan (Xeroptalmie) dan pencegahan masalah gangguan terhadap penyakit gondok serta dapat digunakan sebagai obat anti kanker. Komposisi kimia dan kandungan gizi dari buah merah.

Cara Pembuatan Minyak Buah Merah

Cara pengolahan jenis P.conoideus (Buah merah) secara tradisional menjadi minyak sebagai berikut: buah yang sudah dipanen kemudian dibelah dan dikelurkan bagian tengahnya (isi). Setelah itu dipotong kecil-kecil (diameter 5-10 cm). Potongan-potongan buah tersebut direbus sampai mendidih (100 C0) dengan maksud kulit buahnya menjadi lunak. Untuk mengeluarkan biji dari daging buah dilakukan dengan menumbuk. Setelah air rebusan ditiriskan baru kemudian diperas dan disaring untuk mendapatkan sari (cairannya). Cairan ini dimasukan ke dalam wajan/wadah, selanjutnya dimasak sampai mengeluarkan minyak. Minyak akan muncul dengan sendirinya (terpisah dari air) dipermukaan, ampasnya dari rebusan bisa dijadikan Saus. Saus ini bagi masyarakat Papua digunakan sebagai campuran ubijalar sebagai makanan pokok atau papeda (makanan yang terbuat dari sagu). Minyak dan saus tsb bisa disimpan dalam botol tertutup agar steril (tidak tengik), bagi masyarakat Papua, untuk mempertahankan mutu disimpan dengan tungku.