• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

Talas Raksasa Mapia dan Sebarannya di Papua Barat

Pulau Papua adalah salah satu pulau utama di Kepulauan Indonesia yang memiliki potensi sumberdaya genetik (SDG) tanaman pertanian yang tinggi, yang diindikasikan dari beragamnya kondisi agroekosistem mulai dari dataran rendah dengan ekosistem lahan kering, basah, dan rawa hingga dataran tinggi diatas 4000 meter di atas muka laut dengan ekosistem alpin. Secara umum kekhasan wilayah ini telah ditandai berbeda dari wilayah lainnya di Indonesia oleh  garis Webber dan Wallace. 

Talas Mapia adalah sejenis talas dengan ukuran tanaman yang sangat besar, berbeda dari ukuran talas pada umumnya. Habitat asli tanaman ini adalah di pulau Mapia, salah satu pulau terluar di Indonesia, sekitar 0,931° LU dan 134,318° BT di utara kepala burung, Samudera Pasifik yang ditemukan di Pami, Manokwari, sekitar -0,82471°LS dan 134,05934°BT  pada ketinggian 7m di atas permukaan laut. Pulau ini dihuni oleh etnis Biak, Papua dimana talas Mapia digunakan sebagai salah satu tanaman pangan lokal, disamping ubijalar dan ubikayu yang merupakan pangan lokal Papua pada umumnya.

Dari hasil wawancara dengan petani terungkap bahwa tanaman ini bahwa tanaman ini diambil pertama kali dari pulau Mapia di tahun 1973, dan langsung ditanam di Wooi, yaitu suatu kampung di bagian barat Pulau Yapen, di kawasan teluk Cenderawasih. Oleh petani yang sama, tanaman ini kemudian dikembangkan di Manokwari pada tahun 1976, namun hanya terbatas di daerah Pami, Manokwari. Dari hasil karakterisasi langsung di lapangan berdasarkan petunjuk teknis karakterisasi, teridentifikasi bahwa dari struktur daun talas mapia menyerupai daun tanaman keladi, namun umbinya merupakan umbi talas. Tinggi tanaman mencapai 4 m. Panjang daun  1,5 m, lebar daun 1m. Tanaman memilki jumlah anakan sangat banyak (> 10 anakan). Setiap anakan menempel pada umbi induk. Bobot umbi mencapai 14 kg dengan panjang umbi 0,5 m. Menurut petani, panjang umbi pada tanah subur mencapai 1-2 m dengan bobot mencapai 40-60 kg. Warna umbi talas mapia kuning mudah, semakin dekat pangkal pelepah semakin berwarna kuning tua.

Pada saat eksplorasi di Manokwari oleh tim SDG BPTP Papua Barat di lokasi di mana tanaman talas Mapia ditanam, yaitu di Pami, ternyata hanya ditemukan dua rumpun tanaman di salah satu petani yang adalah kerabat dari petani yang pertama kali mengintroduksi tanaman tersebut dari Pulau Mapia ke Wooi, Yapen Barat, dan Pami, Manokwari. Kondisi tanah tempat tumbuh talas tersebut adalah lembab, dengan tekstur tanah lempung liat berpasir, dan pH tanah 6,7 (netral). Umur tanaman saat dilakukan karakterisasi adalah lebih dari setahun. Menurut petani, talas mapia dapat tumbuh menahun dengan bentuk dan ukuran yang besar, umumnya mulai umur setahun sudah dapat dipanen untuk dikonsumsi isinya.