• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

BPTP Papua Barat

  • Akreditasi Laboratorium BPTP Papua Barat oleh KAN

    Laboratorium Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat menjadi salah satu laboratorium dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang termasuk dalam pengajuan akreditasi. Dalam proses akreditasi, tahap asesmen dilaksanakan untuk menilai langsung di lapangan kesesuaian pemenuhan persyaratan kompetensi labotarium yang menjadi acuan, yaitu ISO/IEC 17025:2017. Asesmen lapangan dibuka bersama tim asesemen dari Komite Akreditasi Nasional (KAN)  pada Senin (18/03/2019) di Manokwari, Papua Barat.

    Acara pembukaan tersebut dihadiri oleh Kepala BPTP Papua Barat, Ir. Demas Wamaer sebagai Manajer Puncak Laboratorium, M.P, Kepala Sub Bagian Tata Usaha BPTP Papua Barat, Ida Rusyadi, S.Sos, sebagai Manajer Administrasi Laboratorium, Manajer Teknis Laboratorium BPTP Papua Barat, Nicolays Jambang, S.TP, M.Sc. beserta tim laboratorium. Proses asesmen dilaksanakan selama dua hari, yakni Senin sampai Selasa, 18-19 Maret 2019.

    Nico menyebutkan, awal laboratorium BPTP Papua Barat dibangun pada tahun 2016, dilanjutkan dengan pengadaan bertahap prasarana laboratorium dari tahun 2017 sampai tahun 2019 yang masih berjalan. Laboratorium BPTP Papua Barat diresmikan pada 14 November 2018. Nico juga menyampaikan bahwa laboratorium mempunyai peluang yang besar, dikarenakan belum tersedianya laboratorium pengujian proksimat terakreditasi khususnya untuk komoditas lokal di wilayah Indonesia Timur.

    Disisi lain, potensi wilayah Papua Barat untuk mengekspor hasil prouksi pertanian dapat didukung dengan adanya laboratorium pengujian sebagai salah satu jaminan mutu produk bernilai tambah, sehingga hasil pertanian wilayah Indonesia Timur dapat diolah dengan tepat dan terdistribusikan dengan baik ke wilayah lainnya.

    Salah satu tim Komite Akreditasi Nasional (KAN), Dr. Asep Nugraha Ardiwinata, M.Si mengatakan, proses akreditasi bertujuan untuk melihat secara langsung pemenuhan persyaratan dari segi teknis maupun manajemen yang mengacu pada ISO/IEC 17025:2017. Ia juga mengatakan bahwa proses akreditasi akan melibatkan personil dari laboratorium melalui wawancara secara langsung.

    Ruang lingkup dari akreditasi laboratorium tersebut meliputi analisa proksimat serealia dan  umbi-umbian baik segar maupun olahannya, lantas pengujian proksimat yang dapat dilakukan antara lain: kadar air, kadar abu, lemak kasar dan protein kasar.

    READ MORE
  • Bimtek UPSUS PAJALE di Raja Ampat

    Pada tahun 2017 ini, Konsorsium Penelitian Padi Nasional kembali berhasil melepas varietas unggul baru (VUB) padi gogo. Konsorsium penelitian padi gogo lintas lembaga yang dibentuk oleh Badan Litbang Pertanian pada tahun 2008 ini berhasil melepas tiga VUB padi gogo yaitu INPAGO 12 AGRITAN, IPB 9G dan UNSOED PARIMAS. Ketiga varietas tersebut telah melalui pengujian di delapan lokasi lahan kering yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dibawah Litbang Pertanian, bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor dan Universitas Jenderal Soedirman.

    Varietas INPAGO 12 AGRITAN merupakan padi gogo hasil pemuliaan Badan Litbang Pertanian, memiliki potensi hasil yang tinggi yakni sebesar 10.2 ton/ha, rata-rata hasil 6.7 ton/ha, agak toleran terhadap kekeringan dan keracunan Al yang menjadi masalah di lahan kering masam, dan tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, serta memiliki tekstur nasi yang agak pulen.

    Varietas IPB 9G merupakan padi gogo yang dikembangkan oleh Dr. Hajrial Aswidinnoor bersama tim dari Institut Pertanian Bogor. Varietas tersebut memiliki potensi hasil 9.09 ton/ha, dan rata-rata hasil 6.09 ton/ha, tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, agak tahan terhadap keracunan Al dan memiliki tekstur nasi pulen.

    Varietas UNSOED PARIMAS merupakan padi gogo yang dihasilkan oleh Prof. Suwarto dan tim dari Universitas Jenderal Soedirman, memiliki potensi hasil 9.40 ton/ha, rata-rata hasil 6.19 ton/ha, tahan terhadap beberapa ras blas, agak tahan terhadap keracunan Al dan kekeringan, dan tekstur nasinya pulen

    Ketiga varietas baru tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan bagi petani untuk meningkatkan produksi padi di lahan kering. Konsorsium padi nasional akan terus berlanjut dalam menghasilkan inovasi pertanian mendukung tercapainya swasembada beras berkelanjutan.

     

    READ MORE
  • DISKUSI BERSAMA BUPATI MANSEL DAN STAKEHOLDER TERKAIT PENGEMBANGAN KAKAO

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat mengadakan FGD ( Focus Group Discussion )mengenai pengembangan Produk Kakao di Manokwari Selatan , Acara ini diadakan pada Kamis , 25 April 2019 di Aula Kantor Koperasi Produsen “Ebier Suth Cokran” yang berlokasi di Manokwari Selatan.

    Acara ini Dihadiri Oleh Bupati Manokwari Selatan Markus Waran, ST, M.Si , Dr. Aser Rouw, SP, M.Si selaku perwakilan BPTP Papua barat , dan juga perwakilan dari SDSP ( Belanda ) Jan Schuwenburg . selain itu ada perwakilan dari UNIPA Linda E, Lindongi, SP, MSc. Dan Dr. Ir. Antonius Suparno. MP , pengurus koperasi Ebier Suth , Yusuf Kowei bersama dengan perwakilan dari instansi-instansi juga turut hadir dalam diskusi kali ini.

    Adapun Tujuan dari diskusi ini yaitu pihak perwakilan dari Belanda ingin menggali lebih dalam potensi kakao sekaligus melihat prospek pengembangan kakao yang ada di Manokwari selatan untuk selanjutnya dilakukan kerjasama.

    Pada Awalnya Koperasi Produsen “Ebier Suth Cokran” ini sudah lama berproduksi pada tahun 1989 namun seiring berjalannya waktu produksi kakao yang ada disini terhambat dikarenakan faktor manajemen yang kurang baik, namun perlahan-lahan akan dilakukan rehab kembali dikarenakan kebun kakao yang sudah ada sekarang sudah lebih dari 20 tahun dan dinilai sudah cukup tua. Namun Demikian menurut Dr. Aser Rouw, SP, M.Si , secara teori kebun kakao jika sudah 20 tahun produksinya akan mulai melandai , tapi berkat kondisi iklim serta lingkungan di Papua Barat, meskipun sudah lebih dari 20 tahun kakao tersebut masih dapat diproduksi.

    Kedatangan dari Perwakilan Belanda didasari pada Investor Belanda yang tertarik dengan kakao banyak sekali terutama kakao organik , mereka tertarik juga dengan pertanian kakao di Papua Barat karena dinilai produk kakao disini mempunyai kualitas yang baik dan memiliki ketahanan terhadap hama penyakit . Namun untuk bisa mendapatkan kerja sama mereka mengharapkan bisa mendapatkan minimal 200 ton /ha selama setahun , dilihat dari keuntungan perusahaan , disamping itu mereka mengharapkan adanya sertifikasi kakao untuk meningkatkan kualitas dari kakao tersebut.

    Namun demikian Bupati Manokwari Selatan , Markus Waran, ST, M.Si mengatakan bahwa untuk memenuhi hal tersebut , sekaligus untuk meningkatkan motivasi kepada para petani diperlukan support langsung secara finansial dikarenakan anggaran saat ini terbatas , karena generasi muda disini pun sangat tertarik terhadap budidaya kakao.

    Hasil dari diskusi ini yaitu akan dilakukan rencana perehaban secara bertahap , rencana awalnya yaitu sekitar 82 hektar , selain itu 160 bibit tanaman pun sudah dipersiapkan, melakukan peningkatan lingkungan kerja , dilakukannya sertifikasi Kakao, dan perbaikan manajemen internal untuk meningkatkan produktifias kerja dari para petani.

    Kedepannya pun akan ada perwakilan Mahasiswa dari Belanda untuk melakukan peninjauan langsung disini. nantinya para mahasiswa tersebut akan membuat laporan serta melakukan penilaian terkait potensi kakao yang ada di Manowari Selatan.

     

     

    READ MORE
  • Focus Group Discussion LTT PAJALE Kabupaten Sorong

    Pada 14 Agustus 2018 lalu di Kantor Kebun Percobaan Sorong Balai Pengkajian Teknologi Ppertanian Papua Barat telah dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dalam upaya memverifikasi data Luas Tambah Tanam (LTT) Kabupaten Sorong. Peserta yang hadir diantaranya adalah Kepala Dinas Pertanian Kabupaten, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupeten Sorong, Perwakilan Kodim 1704/ Babinsa, Kepala BPP, Penyuluh yang mebidangi di masing masing wilayahnya dan Para Petani yang kurang lebih berjumlah 56 Orang.

    Kepala BPTP Papua Barat dalam sambutannya berharap dengan diadakan kegiatan FGD ini dapat dibahas dan memperoleh data yang valid dalam  upaya-upaya untuk mencapai target LTT. Data tersebut nantinya diharapkan dapat berguna dalam program percepatan waktu tanam periode Tahun 2018 ini. Sebagai penanggung jawab program Upsus di Papua Barat, Ir. Demas Wamaer, MP memaparkan kendala yang sring terjadi dalam pendataan yang berbeda antara Data Pusat dan Daerah. Sehingga perlu dilakukan pendataan langsung atau turun lapangan untuk mendapat sumber data yang tepat. 

    Dalam Kegiatan FGD ini dilakukan diskusi dengan pemaparan perkembangan UPSUS Pajale oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sorong, Babinsa serta BPP dan Penyuluh wilayah Salawati, Klamono, Mariat, Salawati, Manyamuk, Moseigen dan Makbon tentang perkembangan LTT. Selain itu juga dibahas tentang kendala-kendala yang dihadapi di lapangan, potensi lahan untuk penambahan LTT, permintaan pendampingan teknologi dari BPTP Papua Barat, serta distribusi bantuan saprodi di tiap wilayah.

     

    READ MORE
  • Gebyar Perbenihan Tanaman Pangan Nasional ke VII

    Provinsi Papua Barat menjadi tuan rumah kegiatan Gebyar Perbenihan Nasional ke VII Tahun 2019. Acara tersebut diselenggarakan di Aimas Convention Center, Kabupaten Sorong pada Senin hingga Kamis (28-31/10/2019).

    Menteri Pertanian yang diwakili oleh Dirjen Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Dr. Mohammad Takdir Mulyadi dalam sambutannya menyampaikan untuk mencapai target produksi tanaman pangan adalah dengan menggunakan benih varietas unggul bersertifikat. Sehingga acara Gebyar Perbenihan tanaman pangan relevan dengan upaya mewujudkan kemandirian benih untuk mendukung ketahanan pangan melalui pengenalan varietas unggul baru.

    Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Papua Barat, Dr. Yacob Fonataba, M.Si sekaligus menjadi penanggungjawab kegiatan tersebut menyampaikan bahwa acara tersebut merupakan acara yang diselenggarakan secara nasional setiap tahunnya.

    READ MORE
  • Gubernur Kunjungi Stan Pameran BPTP Papua Barat

    Pekan Daerah IV KTNA resmi dibuka oleh Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan pada hari Minggu 21 Juli 2019. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Lapangan Gedung Serba Guna Kabupaten Teluk Bintuni yang akan berlangsung dari tanggal 22 – 27 Juli 2019. 

    READ MORE
  • Laporan PPID Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua Barat

    Laporan PPID Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua Barat dapat di unduh pada tautan berikut:

    READ MORE
  • Melirik Potensi Kopi Arfak, BPTP Bina Petani Kopi

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat melakukan tindak lanjut kegiatan pengembangan budidaya kopi di Distrik Anggi Kabupaten Pegunungan Arfak pada Kamis, 23 Mei 2019.

    Kegiatan tersebut diawali dengan diskusi terkait pengembangan kopi yang diikuti oleh beberapa stakeholder terkait antara lain, BPTP Papua Barat, Akademisi dari Universitas Papua (UNIPA), dan calon petani binaan mengenai potensi pengembangan kopi di daerah tersebut.

    Selanjutnya dilakukan penyerahan 30 bibit kopi kepada calon petani binaan sebagai bibit percobaan dari kegiatan tersebut. Luas lahan kopi yang rencananya akan disediakan petani sekitar 600 ha yang berada pada 6 titik lokasi.

    Seperti yang diketahui saat ini, perkembangan industrialisasi kopi di Indonesia mempunyai prospek yang baik, dikarenakan potensi pasar masih sangat terbuka baik domestik maupun pasar global. Permintaan akan kopi juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Sehingga upaya BPTP dalam membantu pengembangan budidaya kopi di Pegunungan Arfak dirasa tepat untuk dilakukan.

    Diharapkan kerjasama antara stakeholder satu dengan yang lain dapat memberikan manfaat yang besar bagi pengembangan kopi di Distrik Anggi Kabupaten Pegunungan Arfak bagi petani dan masyarakat dilingkungan sekitar baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi yang lain, dengan adanya potensi yang sudah ada, maka akan dapat lebih mudah dalam pengembangannya apabila mendapat dukungan dari semua pihak yang terkait.

    READ MORE
  • Pelantikan Pengurus KTNA Provinsi Papua Barat

    BPTP Papua Barat - Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat, Ir. Demas Wamaer, M.P menghadiri pelantikan pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Provinsi Papua Barat masa bakti 2018-2023 pada Kamis (28/02/2018) yang bertempat di Dinas Peternakan Provinsi Papua Barat.



    Acara pelantikan tersebut dibuka dengan laporan Ketua Panitia pelantikan pengurus periode ke III 2018-2023, Ir. Agus Tanati. Agus juga menyampaikan bahwa persiapan Pekan Daerah (PEDA) IV yang merupakan even tingkat provinsi lalu bergilir ke tingkat Kabupaten/Kota di Kabupaten Teluk Bintuni. KTNA Papua Barat secara independen akan menjadi mitra daerah dibidang pertanian, peternakan, kelautan dan kehutanan.

    Sambutan selanjutnya adalah dari Gubernur Papua Barat yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Papua Barat Drs. Muhammad A.Tawakal menyampaikan visi dan misi dari pembangunan wilayah Papua Barat.

    Visi pembangunan Papua Barat yakni aman, mandiri dan bermartabat. Sedangkan, terkait dengan misi yaitu menanggulangi kemiskinan dan pemanfatan Sumber Daya Alam (SDA) untuk kesejahteraan masyarakat.

    Ia berharap hal tersebut dapat menjadi pendoman untuk seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun rencana strategis agar kesejahteraan masyarakat segera terwujud.

    KTNA diharapkan dapat menjadi wadah dalam mencari solusi atas permasalahan petani dan nelayan. Dengan adanya pelantikan pengurus KTNA Papua Barat, sehingga secara sah organisasi tersebut sudah bisa melaksanakan tugas-tugasnya.


    Beberapa tugas yang sudah mulai dapat dikerjakan diantaranya, (1) Menyusun program strategis,
    (2) Mengkoordinir petani dan nelayan,
    (3) Mencari solusi terhadap permasalahan
     seluruh organisasi SKPD memberikan perhatian untuk membantu dan menyinkronkran progam kerja guna membangun petani dan nelayan asli papua dalam mengatasi permasalahan di bidang pertanian dan kelautan.



    Pelantikan pengurus tersebut dilaksanakan oleh Ketua KTNA Nasional yg diwakili oleh Wakil Ketua Umum KTNA Nasional Dr. Tauwi, SE. M.Si. dengan memberikan sambutannya.

    Tauwi menyampaikan, 68% penduduk masih bergantung pada bidang pertanian, sehingga KTNA diharapkan dapat menjadi mitra pemerintah untuk membangun pertanian guna meningkatkan kesejahteraan petani.

    Merujuk pada Repelita I terkait Dasar-dasar penyuluhan, untuk membina masyarakat petani dan nelayan untuk mencapai swasembada adalah dengan melalui kontak tani yang diwakili oleh ketua kelompok tani.

    Selanjutnya, di Cikea pada tahun 1971 diawali dengan pertemuan perwakilan kontak tani se-pulau Jawa, dihadiri oleh Direktorat Penyuluhan dan Perguruan Tinggi, Badan Musyawarah Kontak Tani Indonesia (Bamukti) yang berubah menjadi Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA). Dengan adanya pelantikan pengurus KTNA diharapkan dapat segera berkontribusi dan bekerja dalam meningkatkan Kesejahteraan Petani.

    Sesuai dengan Surat Keputusan KTNA Nasional Nomor:10/SKEP/P/KTNA-Nas/03/2018, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat bertugas sebagai Anggota Dewan Ahli yang berperan dalam mendiseminasikan berbagai Inovasi Teknologi Pertanian dari Badan Litbang Pertanian. Harapannya adalah dapat membantu petani di Provinsi Papua Barat dalam menerapkan inovasi teknologi yang bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraanya.

    READ MORE
  • Pengembangan Kebun Kakao Koperasi di Mansel

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat melakukan pendampingan kepada Dinas Pertanian Kabupaten Manokwari Selatan terkait dengan pengembangan kebun kakao Koperasi Ebier Suht Distrik Ransiki Kabupaten Manokwari Selatan pada Rabu, 22 Mei 2019.

    Luas keseluruhan lahan kakao yang berada dalam manajemen koperasi sekitar 1686 ha, namun baru sekitar 300 ha yang sudah terpelihara dengan baik. Sehingga perlu adanya optimalisasi dalam pengembangan kakao tersebut.

    Kegiatan tersebut berupa diskusi pengembangan kebun kakao koperasi yang diikuti oleh beberapa stakeholder terkait antara lain, BPTP Papua Barat, Akademisi dari Universitas Papua (UNIPA), Dinas Pertanian Kabupaten Manokwari selatan, serta pimpinan Koperasi Ebier Suht bersama investor asing.
    Dengan adanya investor asing yang masuk, akan memberikan dampak positif bagi koperasi maupun petani kakao setempat. Koperasi akan diberikan pendampingan dalam  pengembangan kakao oleh investor asing tersebut.

    Disisi lain, dampak positif juga akan dirasakan oleh petani kakao dalam peningkatan pendapatan petani. Dikarenakan hasil panen dari petani kakao dapat langsung dijual kepada koperasi dengan harga yang standar.

    Diharapkan kerjasama antara stakeholder satu dengan yang lain dapat memberikan manfaat yang besar bagi pengembangan kakao di Kabupaten Manokwari Selatan, dengan adanya potensi yang sudah ada, maka akan dapat lebih mudah dalam pengembangannya apabila mendapat dukungan dari semua pihak yang terkait.

    READ MORE
  • Pengenalan Ayam KUB di Papua Barat

    Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) adalah varietas ayam unggul baru yang dikembang oleh Balai Penelitian Ternak, Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian. Untuk mendapatkan hasil optimal, dalam proses pemeliharaannya disarankan untuk mengikuti petunjuk pemeliharaan dan pemberian pakan yang intensif. Keunggulan varietas ayam KUB tersebut selain memiliki corak warna yang beragam, keunggulan lainnya diantaranya bobot badan pada umur sekitar 12 minggu adalah 1.200-1.600 gram, bobot telur 35-45 gram, umur pertama bertelur  lebih awal yaitu 20 - 22 minggu, produktivitas telur lebih tinggi yaitu 160 -180 butir/ekor/tahun serta lebih tahan terhadap penyakit dibanding dengan varietas ayam kampung biasa. Dengan berbagai keunggulan tersebut, ayam KUB sangat cocok untuk dikembangkan sebagai usaha ayam kampung potong.

    Pengenalan Ayam KUB di Papua Barat dilakukan melalui kegiatan Temu Lapang oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat. Acara yang diselenggarakan pada tanggal 9 November 2017 tersebut dihadiri oleh sekitar 100 peserta dan bertempat di Kebun Percobaan (KP) Kab. Sorong BPTP Papua Barat. Pada acara tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Kab. Sorong, perwakilan TNI, Polri, Penyuluh Pertanian dan Penyuluh Peternakan, Petani/Peternak serta beberapa Pengurus Koperasi diwilayah Kabupaten Sorong. 

    Pada acara yang dibuka langsung oleh Kepala BPTP Papua Barat, Ir. Demas Wamaer, M.P tersebut juga diisi oleh pemaparan dan penjelasan mengenai teknik budidaya Ayam KUB. Pemaparan dilakukan oleh peneliti peternakan BPTP Papua Barat, Ririen Indrawati A, S.Pt mengenai hasil kajian dan penelitian ayam KUB yang telah dilakukan di KP Sorong tersebut. Diharapkan dengan terselenggaranya kajian Ayam KUB dan acara Temu Lapang tersebut, informasi mengenai teknik budidaya varietas unggul baru ayam tersebut di Kab. Sorong dapat tersebar luas dan dapat diadopsi langsung oleh masyarakat umum khususnya masyarakat di Kabupaten Sorong.

     

    READ MORE
  • PENGOLAHAN UBI JALAR MENJADI ANEKA OLAHAN KUE

    Pangan lokal nusantara berperan penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Tanaman pangan seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung dan sagu yang telah diolah menjadi tepung akan memiliki potensi yang besar sebagai bahan baku industri untuk menggantikan tepung terigu yang selama ini impor. Kebutuhan tepung terigu yang semakin tinggi tetapi, Indonesia bukan negara yang menghasilkan gandum yang merupakan bahan baku pembuatan tepung terigu. Sehingga untuk menggantikan bahan baku tepung terigu perlu adanya bahan baku pengganti, agar Indonesia tidak terus menerus bergatung pada negara lain. Salah satu tanaman pangan yang dapat sebagai pengganti  bahan baku tepung adalah ubi jalar.

    READ MORE
  • Sosialisasi Kaji Terap VUB Ampibi di Manokwari

    Pada hari Senin, 17 September 2018 bertempat di kediaman Bapak Harsono, Ketua kelompok tani Joker Kampung Handuk, Distrik Prafi Kabupaten Manokwari Papua Barat berlangsung acara sosialisasi Kaji Terap Inovasi Teknologi VUB padi Ampibi Balitbangtan. Acara yang dihadiri 36 orang peserta yang terdiri dari penyuluh BPP, petani dan tim kaji terap dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua Barat bertujuan untuk memperkenalkan 5 VUB padi amfibi yang telah diujicoba di Kebun Percobaan Anday kepada petani untuk dapat digunakan oleh petani sebagai benih pada kegiatan kaji terap.

    Kepala BPTP Papua Barat, Ir. Demas Wamaer, MP dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf karena keterlambatan dalam pelaksanaan kegiatan ini. Kegiatan yang seharusnya dimulai sejak bulan Mei atau Juni 2018 lalu, terkendala dengan ketersediaan benih sehingga baru dapat dilaksanakan saat benih telah siap. Pada kesempatan itu Kepala BPTP mengharapkan warga sebagai petani kooperator dapat menerima dan bersama pemerintah berupaya untuk mensukseskan program pemerintah dibidang pertanian, seperti program UPSUS (upaya-upaya khusus) PAJALE (Padi, Jagung, Kedele) dan pola tanam tumpang sari.

    Kepala Kampung Handuk, Dorus Muid mewakili tokoh masyarakat dan adat mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dimana kegiatan tahun ini dapat diadakan di Kampung Handuk, dan mengajak masyarakat untuk semangat dalam mendukung program-program pemerintah. Sedangkan dalam sambutan Kepala BPP Prafi, Djaka Mastuti, S.ST lebih mengarah ke OPT (organisme pengganggu tanaman) yang kian tinggi tingkat serangannya oleh sebab itu petani diajak untuk memilih varietas unggul yang benar-benar tahan terhadap serangan OPT sehingga hasil produksi bisa maksimal.

    Selanjutnya pemaparan materi oleh Kepala BPTP Papua Barat seputar VUB Amfibi disampaikan secara sederhana sehingga mudah dipahami oleh petani. Dalam kegiatan kali ini tim BPTP Papua Barat mencoba melibatkan petani OAP (orang asli papua) sehingga mereka bisa terlibat dan memposisikan diri dengan saudara-saudaranya masyarakat trans dari Jawa. Petani OAP ini sudah bertahun tahun bercocok tanam padi gogo namun produksinya masih rendah. Harapan mereka dengan adanya sentuhan teknologi melalui VUB maupun PTT produksi padinya dapat meningkat. Pemaparan materi juga dirangkai dengan diskusi dan tanya jawab mengenai padi amfibi dan permasalahannya. Selain itu dibahas pula mengenai penyakit Blas/ Patah leher dan banyaknya biji padi yang hampa yang selanjutnya di respon Kepala Balai dan Peneliti Hama Penyakit Tanaman dari BPTP PB, Surianto Sipi, SP. 

    Acara selanjutnya adalah penyerahan benih secara simbolis oleh Kepala BPTP Papua Barat kepada perwakilan kelompok tani Handuk dan kelompok tani Kerenu. Sebanyak 200 kg benih yang terdiri dari 5 varietas yaitu varietas towuti, inpago 4, inpago 8, inpago 9 dan inpago 11 diserahkan kepada petani dan menandai dimulainya kegiatan kaji terap inovasi teknologi pertanian di Distrik Prafi Kabupaten Manokwari. Selanjutnya para petani diharap dapat mengembangkan lagi beberapa VUB yang telah dicoba yang mempunyai daya tahan terhadap serangan OPT dan sudah beradaptasi dengan baik.

     

    READ MORE
  • Tingkatkan Produktivitas Pertanian dengan IP

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat melaksanakan program peningkatan Indeks Pertanaman (IP) yang bertujuan untuk meningkatan produktivitas tanaman pangan. Indeks pertanaman (IP) adalah rata-rata masa tanam dan panen dalam satu tahun pada lahan yang sama.

    Kegiatan peningkatan IP dilaksanakan oleh tim BPTP Papua Barat dan ikut serta pula petani dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Distrik Oransbari Kabupaten Manokwari Selatan pada 22 dan 23 Mei 2019.

    Salah satu strategi dalam peningkatan produksi pertanian adalah dengan ekstensifikasi yaitu dengan pembukaan lahan pertanian baru. Upaya yang dilakukan adalah pembukaan lahan cetak sawah baru di Distrik Oransbari Kabupaten Manokwari Selatan dengan luas 54 ha dengan rencana Demonstrasi Plot (demplot) seluas 10 ha dengan komoditas tanam padi gogo serta jagung.

    Beberapa kelompok tani yang menjadi binaan BPTP Papua Barat di Distrik Oransbari Kabupaten Manokwari kali ini diantaranya Kelompok Tani Imbeisba 1, Kelompok Tani Imbeisba 2, dan Kelompok Tani Mbut Aniyai. Ketiga kelompok tani tersebut saat ini sedang berbudidaya komoditas lokal berupa keladi, batatas, singkong, pisang dan tanaman lokal lainnya.

    Namun demikian masih terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan program tersebut diantaranya belum tersedianya akses jalan menuju lokasi lahan cetak sawah baru tersebut, pengairan yang belum tertata dengan baik. Diharapkan kegiatan tersebut berjalan dengan baik kedepannya.

    READ MORE
  • Transformasi Budaya Petani Lokal melalui Bimtek

    Pertanian sawah (intensif/menetap) merupakan sebuah transformasi budaya bagi masyarakat lokal papua dan papua barat yang tebiasa menerapkan sistem pertanian (perladangan) berpindah. Di Manokwari Selatan luas tambahan cetak sawah baru sekitar 1000 ha yang 90% nya berada di wilayah adat masyarakat lokal dan sebagian besar kondisi lahannya belum berpengairan dan belum tertata sebagai sawah yang ideal. Kebiasaan lahan cetak sawah baru sekali tanam (ditanami satu kali kemudian dibiarkan tidak ditanami setelah itu), mengakibatkan kontribusi lahan cetak baru terhadap produksi pertanian daerah tidak maksimal. Untuk itu pendampingan yang intensif perlu dilakukan untuk mendorong semangat petani lokal untuk mengoptimalkan lahan yang sudah tercetak. 

    BPTP Papua barat melaksanakan denfarm dukungan inovasi teknologi peningkatan IP pada lahan cetak baru milik petani lokal seluas 10 ha pada hamparan 54 ha dengan melibatkan dua kelompok tani (41 petani): Fasmeda (27 petani) dan Nyamtui (14 petani) yang berlokasi di Kampung Nyamtui, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan. Pendekatan pola tanam yang dilakukan yaitu dengan mengintroduksi Jagung komposit Bisma pada MT 2, memperkenalkan komponen teknologi kepada petani lokal berupa :  sistem tanam legowo 4:1, dan dosis pemupukan spesifik lokasi yang ditentukan dengan PUTK.

    Bimtek pemupukan spesifik lokasi dilakukan secara bertahap BPTP Papua Barat, setelah sebelumnya dilakukan bimtek sistem tanam jajar legowo. Kegiatan ini sangat penting karena petani koperator sama sekali belum pernah menggunakan pupuk, meskipun pada musim tanam sebelumnya mereka menanam padi gogo. Bimtek dilaksanakan pada tanggal 20 September 2018, dan dihadiri oleh 70 (tujuh puluh) orang peserta, yang terdiri dari: petani koperator, peneliti/penyuluh BPTP Papua barat, penyuluh lapangan (PPL), serta pihak dinas ketahanan pangan dan pertanian Kabupaten Manokwari Selatan. Waktu bimtek bertepatan dengan pelaksanaan pemupukan kedua pada denfarm tanaman Jagung.

    Kepala BPTP Papua Barat dalam sambutannya menyampaikan tugas BPTP dalam upaya pendampingan peningkatan produksi pangan melalui kegiatan strategis kementan adalah mengidentifikasi kebutuhan inovasi teknologi dan kemudian mendampingi secara intensif dalam proses pelekasanaan di lapangan. Pelaksanaan denfarm dan bimtek adalah bagian dari tugas pendampingan BPTP.

    Sementara itu, Dr. Ir. Nandang Sukandar, MP mewakili Kepala BBP2TP menyampaikan bahwa BPTP Papua barat dan Dinas perlu menyusun startegi untuk mengoptimalkan lahan-lahan yang ada bagi pengingakatan luas tambah tanam (LTT) dan produksi pangan. Petugas LO dari BPTP dapat mengindetifikasi calon petani dan lahan (CPCL) dan kemudian BPTP menyampaikan secara tertulis ke Dinas Pertanian untuk eksekusi program. Setelah itu, BPTP perlu terus mendampingi untuk memberikan penguatan inovasi teknologi. Dalam konteks ini hasil-hasil kajian BPTP juga dapat segera disampaikan melalui surat ke Dinas agar dapat digunakan secara cepat untuk mendukung upaya peningkatan produksi pangan. Pihak Dinas perlu pula menyampaikan data CPCL yang sudah diprogramkan kepada BPTP, agar BPTP dapat merencanakan dan melaksanakan kegiatan pendampingan secara tepat. Disampaikan pula bahwa BPTP Papua Barat perlu menganalisis kebutuhan konsumsi pangan di Papua Barat dan berapa besar produksi pangan yang diperlukan. Hal ini akan menjadi dasar bagi strategi peningkatan provitas dan luas tambah tanam. Data dan informasi ini perlu nantinya disampaikan pada waktu pembahasan LTT di pusat. 

    Selanjutnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Manokwari Selatan yang diwakili oleh Sekretris Dinas: Frans Wilhelmus Meokbun, S.ST dalam sambutanya  menyampaikan apresiasi baik kepada Litbang Pertanian yang telah mendorong optimalisasi pemanfaatan lahan cetak sawah baru khususnya pada masyarakat lokal Papua. “Kami berterima kasih kepada BPTP Papua Barat karena telah mendampingi petani sehingga mereka mulai mengenal dan dapat menggunakan pupuk pada tanamannya”. Dan lebih lanjut kepala Dinas memohon bantuan BPTP untuk terus mendampingi petani agar dapat terjadi transformasi sistem bertani pada petani lokal  di Papua Barat.  

    Materi bimtek pemupukan spesifik lokasi disampaikan dengan pendekatan penjelasan dan demonstrasi oleh tim peneliti/penyuluh BPTP yang dipimpin oleh Penanggung Jawab Kegiatan Dukungan Inovasi teknologi untuk peningkatan IP di Papua Barat Dr. Aser Rouw, SP, M.Si. Struktur materi bimtek pemupukan spesifik lokasi disusun sesuai dengan karakteristik para petani lokal yang masih sangat minim menerima dan menerapkan informasi teknologi pertanian. Substansi materi pemupukan spesifik lokasi mencakup empat hal penting: (1) jenis dan manfaat pupuk, (2) cara menentukan dosis pupuk spesifik lokasi, (3) cara memupuk, dan (4) waktu pemupukan. Keempat aspek tersebut disusun dalam bentuk pertanyaan terstruktur yang mudah dipahami yang kemudian dijelaskan dengan bantuan slite dan demonstrasi secara langsung dengan dukungan alat peraga berupa: jenis pupuk (anorganik dan organik), timbangan, alat panakar dan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK).

    Jenis pupuk yang diperkenalkan kepada petani adalah Urea, SP36 dan NPK Phonska. Karena jenis pupuk ini yang tersedia dan digunakan oleh petani. Petani diminta untuk menunjuk dan menjelaskan bentuk dan warnah masing-masing jenis pupuk tersebut secara fisual berdasarkan contoh pupuk yang disediakan sebagai alat/bahan peraga. Manfaat pupuk bagi tanaman, dijelaskan dengan ilustrasi hasil tanaman yang diperoleh berdasarkan pengamalaman mereka dalam sistem perladangan berpindah. Mereka mengunkapkan bahwa mereka membuka sebuah hutan dan hanya ditanami sekitar 2-3 tahun kemudian berpindah dan membuka lagi kebun baru. Hal ini dilakukan karena hasil yang diperoleh semakin lama semakin sedikit. Kepada petani dijelaskan hasil yang makin lama makin sedikit karena makanan yang tersedia bagi tanaman di dalam tanah sudah berkurang “ tanah sudah miskin/tidak subur”. Tanah harus dipupuk. Dan inilah manfaat pupuk, yaitu untuk mendapatkan hasil panen yang baik.

    Cara menentukan dosis pupuk sepsifik lokasi dijelaskan dengan ilustrasi bahwa berapa unsur hara (makanan tanaman) yang tersedia di dalam tanah? Dan berapa yang dibutuhkan tanaman? Khususnya tanaman jagung. Berapa kekurangan hara yang perlu ditambahkan kedalam tanah supaya mencukupi bagi kebutuhan jagung. Inilah yang dimaksud pemupukan spesifik lokasi. Cara menentukan dosis pupuk spesifik lokasi ini dilakukan dengan alat/perangkat yang disebut dengan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK). Petani tidak asing dengan perangkat PUTK karena telah diperkenalkan/dipraktekkan sebelumnya pada saat awal penentuan dosis pupuk spesifik lokasi pada lokasi Denfarm.

    Untuk waktu pemupukan, dijelaskan kepada petani bahwa mereka harus ingat dua hal penting: (1) umur perkembangan tanaman tanaman Jagung dan (2) keadaan tanah. Umur tanaman saat pertumbuhan awal dan memasuki fase pembungaan adalah umur di mana tanaman membutuhkan makanan dalam jumlah yang cukup sehingga saat itu harus dipupuk. Saat memupuk harus memperhatikan keadaan tanah. Jika tanah terlalu kering (pecah-pecah) maka pupuk tidak akan segera larut dan tidak dapat segera digunakan tanaman. Sebaliknya jika terlalu basah (tergenang) pupuk akan cepat larut dan hilang (terhanyut) dari prakaran tanaman. Keadaan tanah yang baik adalah tanah dalam keadaan lembab. Sedangkan cara memupuk yang terbaik adalah dengan membenamkan pupuk dekat  prakaran tanaman, agar pupuk tidak mudah hilang dan segera digunakan tanaman. Petani dilatih juga bagaimana cara menimbang pupuk untuk skala 1 ha dan bagaimana menimbangnya untuk setiap individu tanaman. 

    Dalam kegiatan pelaksanaan bimtek ini, tim penyuluh BPTP Papua Barat mengukur tingkat pengetahuan dan ketrampilan petani dalam menerima materi pendampingan dan efektifitas peyampaian materi bimtek dengan cara menyampaikan kuisioner sebelum materi bimbingan dan setelahnya. Hal ini penting untuk merancang bentuk-bentuk kegiatan pendampingan yang efektif pada petani lokal. Petani menunjukkan antusiasme dan partisipasi yang tinggi selama belarsungnya kegiatan bimbingan.

    Dengan pendekatan komunal dan intensif untuk membangun dan memotivasi petani lokal yang terlibat sebagai koperator, diharapkan dapat mengubah pola pikir petani lokal sehingga dapat mendorong trasformasi budaya petani tradisional menjadi petani yang mau menerima dan menerapkan inovasi teknologi. Hal ini sudah mulai tampak hasilnya, yaitu mulai terbangunya semangat partisipasi dan swadaya petani lokal selama proses kegiatan denfarm.

     

     

    READ MORE
  • Workshop Penyusunan Laporan Keuangan 2019

    Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) menjadi koordinator kegiatan Workshop Penyusunan Laporan Keuangan Tingkat Satker Kementerian Pertanian Semester I Tahun 2019 Provinsi Papua Barat. Acara ini diselenggarakan selama 4 hari pada tanggal 9 sampai 12 Juli 2019 di Hotel Aston Niu Manokwari.

    Kegiatan workshop yang diselenggarakan langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian tersebut mengangkat tema "Pertahankan Kualitas Lapora Keuangan Melalui Verifikasi dan Reviu yang Handal".

    angkaian acara kegiatan workshop tersebut diawali dengan laporan ketua panitia daerah yakni Ida Ruyadi, S.Sos dan dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Dewi Rahayu, S.Pt. Selanjutnya sambutan dari Kepala BPTP Papua Barat juga selaku Ketua Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Barang Wilayah (UAPPA B-W) Papua Barat, Ir. Demas Wamaer, MP yang sekaligus membukan acara kegiatan worshop secara resmi.

    Turut hadir pula perwakilan dari Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian yang bertugas sebagai tim reviu dari kegiatan workshop tersebut. Selain itu turut serta pula perwakilan dari mitra kerja Kementerian Pertanian dari Kementerian Keuangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB), Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Manokwari dan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Sorong.

    Peserta workshop terdiri dari 18 Satuan Kerja (satker) wilayah Papua Barat. Masing-masing satner mengirimkan satu sampai dua operator untuk mengikuti kegiatan.
    Kegiatan workshop tersebut berlangsung dengan baik selama 4 hari dan harapannya adalah Kementerian Pertanian akan mendapatkan Opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) sesuai dengan apa yang sudah didapatkan selama 3 tahun berturut-turut.

    READ MORE