• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

Sosialisasi Kaji Terap VUB Ampibi di Manokwari

Pada hari Senin, 17 September 2018 bertempat di kediaman Bapak Harsono, Ketua kelompok tani Joker Kampung Handuk, Distrik Prafi Kabupaten Manokwari Papua Barat berlangsung acara sosialisasi Kaji Terap Inovasi Teknologi VUB padi Ampibi Balitbangtan. Acara yang dihadiri 36 orang peserta yang terdiri dari penyuluh BPP, petani dan tim kaji terap dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua Barat bertujuan untuk memperkenalkan 5 VUB padi amfibi yang telah diujicoba di Kebun Percobaan Anday kepada petani untuk dapat digunakan oleh petani sebagai benih pada kegiatan kaji terap.

Kepala BPTP Papua Barat, Ir. Demas Wamaer, MP dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf karena keterlambatan dalam pelaksanaan kegiatan ini. Kegiatan yang seharusnya dimulai sejak bulan Mei atau Juni 2018 lalu, terkendala dengan ketersediaan benih sehingga baru dapat dilaksanakan saat benih telah siap. Pada kesempatan itu Kepala BPTP mengharapkan warga sebagai petani kooperator dapat menerima dan bersama pemerintah berupaya untuk mensukseskan program pemerintah dibidang pertanian, seperti program UPSUS (upaya-upaya khusus) PAJALE (Padi, Jagung, Kedele) dan pola tanam tumpang sari.

Kepala Kampung Handuk, Dorus Muid mewakili tokoh masyarakat dan adat mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dimana kegiatan tahun ini dapat diadakan di Kampung Handuk, dan mengajak masyarakat untuk semangat dalam mendukung program-program pemerintah. Sedangkan dalam sambutan Kepala BPP Prafi, Djaka Mastuti, S.ST lebih mengarah ke OPT (organisme pengganggu tanaman) yang kian tinggi tingkat serangannya oleh sebab itu petani diajak untuk memilih varietas unggul yang benar-benar tahan terhadap serangan OPT sehingga hasil produksi bisa maksimal.

Selanjutnya pemaparan materi oleh Kepala BPTP Papua Barat seputar VUB Amfibi disampaikan secara sederhana sehingga mudah dipahami oleh petani. Dalam kegiatan kali ini tim BPTP Papua Barat mencoba melibatkan petani OAP (orang asli papua) sehingga mereka bisa terlibat dan memposisikan diri dengan saudara-saudaranya masyarakat trans dari Jawa. Petani OAP ini sudah bertahun tahun bercocok tanam padi gogo namun produksinya masih rendah. Harapan mereka dengan adanya sentuhan teknologi melalui VUB maupun PTT produksi padinya dapat meningkat. Pemaparan materi juga dirangkai dengan diskusi dan tanya jawab mengenai padi amfibi dan permasalahannya. Selain itu dibahas pula mengenai penyakit Blas/ Patah leher dan banyaknya biji padi yang hampa yang selanjutnya di respon Kepala Balai dan Peneliti Hama Penyakit Tanaman dari BPTP PB, Surianto Sipi, SP. 

Acara selanjutnya adalah penyerahan benih secara simbolis oleh Kepala BPTP Papua Barat kepada perwakilan kelompok tani Handuk dan kelompok tani Kerenu. Sebanyak 200 kg benih yang terdiri dari 5 varietas yaitu varietas towuti, inpago 4, inpago 8, inpago 9 dan inpago 11 diserahkan kepada petani dan menandai dimulainya kegiatan kaji terap inovasi teknologi pertanian di Distrik Prafi Kabupaten Manokwari. Selanjutnya para petani diharap dapat mengembangkan lagi beberapa VUB yang telah dicoba yang mempunyai daya tahan terhadap serangan OPT dan sudah beradaptasi dengan baik.

 

Focus Group Discussion LTT PAJALE Kabupaten Sorong

Pada 14 Agustus 2018 lalu di Kantor Kebun Percobaan Sorong Balai Pengkajian Teknologi Ppertanian Papua Barat telah dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dalam upaya memverifikasi data Luas Tambah Tanam (LTT) Kabupaten Sorong. Peserta yang hadir diantaranya adalah Kepala Dinas Pertanian Kabupaten, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupeten Sorong, Perwakilan Kodim 1704/ Babinsa, Kepala BPP, Penyuluh yang mebidangi di masing masing wilayahnya dan Para Petani yang kurang lebih berjumlah 56 Orang.

Kepala BPTP Papua Barat dalam sambutannya berharap dengan diadakan kegiatan FGD ini dapat dibahas dan memperoleh data yang valid dalam  upaya-upaya untuk mencapai target LTT. Data tersebut nantinya diharapkan dapat berguna dalam program percepatan waktu tanam periode Tahun 2018 ini. Sebagai penanggung jawab program Upsus di Papua Barat, Ir. Demas Wamaer, MP memaparkan kendala yang sring terjadi dalam pendataan yang berbeda antara Data Pusat dan Daerah. Sehingga perlu dilakukan pendataan langsung atau turun lapangan untuk mendapat sumber data yang tepat. 

Dalam Kegiatan FGD ini dilakukan diskusi dengan pemaparan perkembangan UPSUS Pajale oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sorong, Babinsa serta BPP dan Penyuluh wilayah Salawati, Klamono, Mariat, Salawati, Manyamuk, Moseigen dan Makbon tentang perkembangan LTT. Selain itu juga dibahas tentang kendala-kendala yang dihadapi di lapangan, potensi lahan untuk penambahan LTT, permintaan pendampingan teknologi dari BPTP Papua Barat, serta distribusi bantuan saprodi di tiap wilayah.

 

Bimtek UPSUS PAJALE di Raja Ampat

Pada tahun 2017 ini, Konsorsium Penelitian Padi Nasional kembali berhasil melepas varietas unggul baru (VUB) padi gogo. Konsorsium penelitian padi gogo lintas lembaga yang dibentuk oleh Badan Litbang Pertanian pada tahun 2008 ini berhasil melepas tiga VUB padi gogo yaitu INPAGO 12 AGRITAN, IPB 9G dan UNSOED PARIMAS. Ketiga varietas tersebut telah melalui pengujian di delapan lokasi lahan kering yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dibawah Litbang Pertanian, bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor dan Universitas Jenderal Soedirman.

Varietas INPAGO 12 AGRITAN merupakan padi gogo hasil pemuliaan Badan Litbang Pertanian, memiliki potensi hasil yang tinggi yakni sebesar 10.2 ton/ha, rata-rata hasil 6.7 ton/ha, agak toleran terhadap kekeringan dan keracunan Al yang menjadi masalah di lahan kering masam, dan tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, serta memiliki tekstur nasi yang agak pulen.

Varietas IPB 9G merupakan padi gogo yang dikembangkan oleh Dr. Hajrial Aswidinnoor bersama tim dari Institut Pertanian Bogor. Varietas tersebut memiliki potensi hasil 9.09 ton/ha, dan rata-rata hasil 6.09 ton/ha, tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, agak tahan terhadap keracunan Al dan memiliki tekstur nasi pulen.

Varietas UNSOED PARIMAS merupakan padi gogo yang dihasilkan oleh Prof. Suwarto dan tim dari Universitas Jenderal Soedirman, memiliki potensi hasil 9.40 ton/ha, rata-rata hasil 6.19 ton/ha, tahan terhadap beberapa ras blas, agak tahan terhadap keracunan Al dan kekeringan, dan tekstur nasinya pulen

Ketiga varietas baru tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan bagi petani untuk meningkatkan produksi padi di lahan kering. Konsorsium padi nasional akan terus berlanjut dalam menghasilkan inovasi pertanian mendukung tercapainya swasembada beras berkelanjutan.

 

SINKRONISASI HASIL LITKAJI DAN PROGRAMA PENYULUHAN

Manokwari (23 April 2018). Selain sebagai lembaga penelitian, pengkajian, dan diseminasi serta mengemban tugas fungsi penyuluhan, posisi BPTP sebagai unit pelaksana teknis (UPT) pusat yang memiliki mandat daerah, memiliki peran strategis sebagai penghubung (bridging) kebijakan pertanian pusat dan daerah. Dengan posisi inilah, BPTP mendapat tambahan fungsi melalui Permentan No.19/Permentan/OT.020/5/2017 berupa “pelaksanaan bimbingan teknis materi penyuluhan dan diseminasi hasil penelitian/pengkajian teknologi pertanian spesifik lokasi)”.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas diperlukan upaya bersama untuk mensinkronkan materi hasil litkaji dengan programa penyuluhan baik pusat maupun daerah. Bertempat di Hotel Fujita Papua telah diselenggarakan Kegiatan Sinkronisasi Materi Hasil Litkaji dan Programa Penyuluhan Pertanian Pusat dan Daerah dihadiri oleh 20 tamu undangan dan 60 penyuluh yang datang dari berbagai daerah di Provinsi Papua Barat serta Ketua KTNA Provinsi Papua Barat selama dua hari (23 – 24 April 2018) dengan penanggungjawab kegiatan Ka BPTP Papua Barat.

Acara yang sedianya dibuka oleh Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat, namun karena suatu hal pembukaan acara diwakilkan kepada Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Ir. Yacob Fonataba, M.Si). Dalam sambutannya beliau menyampaikan, menindaklanjuti program nawacita Pemerintah dalam pembangunan khususnya bidang pertanian, tidak dapat dilepaskan dari kegiatan Penyuluhan Pertanian. Kegiatan ini menjadi ujung tombak karena peranan penyuluh pertanian yang sangat penting dalam memberikan pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya, serta meningkatnya kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Dalam melaksanakan tugasnya penyuluh pertanian tidak dapat bekerja sendiri-sendiri, semuanya harus bekerja sama baik Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten yang mendukung sepenuhnya dengan berbagai kebijakan yang terkait kelembagaan dan anggaran.
Penyuluh sangatlah membutuhkan dukungan kelembagaan sebagai wadah untuk berorganisasi secara terstruktur dari daerah sampai pusat. Selain hal tersebut dengan adanya kelembagaan penyuluhan yang baik, akan menjadikan sumberdaya manusia yang profesional dan ketersedian sumber pendanaan yang baik dan akuntabel. Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, diharapkan akan tersususn Programa Penyuluhan Tahun 2019 berdasarkan Materi Hasil Penelitian dan Pengkajian.

Pada hari kedua dalam Kegiatan Sinkronisasi Materi Hasil Litkaji dan Programa Penyuluhan Pertanian, hadir sebagai nara sumber Ka. Pusat Penyuluhan dan SDM Pertanian (Dr. Ir. Siti Munifah, M.Si). Beliau menyampaikan kepada hadirin dan peserta (penyuluh) bahwa visi Pemerintah yang menjadikan lumbung pangan dunia tahun 2045. Untuk itu, perlu didukung SDM Profesional, Mandiri dan Berdaya saing. Ketiga indikator tersebut harus dimiliki oleh penyuluh. Lebih lanjut beliau menyampaikan kegagalan penyuluhan sering terjadi akibat dari ketidak-sesuaian antara programa penyuluhan di daerah dengan programa penyuluhan dari pusat, sehingga mindset penyuluh perlu dibangun kembali.

 

 

Panen Perdana di Kabupaten Sorong

Kamis 4 Januari 2018 petani dari Kelompok Tani Melati Jaya di Distrik Mariat Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat melakukan panen padi perdana di awal tahun 2018 ini. Panen yang di dampingi oleh Balai Pengkajian Tenologi Pertanian (BPTP) Papua Barat ini dilakukan pada lahan seluas 17 Ha. Selain itu, panen tersebut juga dihadiri oleh Kepala Distrik Mariat, Kapolsek Mariat, Kepala BPP Mariat, dan PPL setempat.

Pada lahan 17 hektar tersebut ditanami padi varietas Inpari 32 yang merupakan VUB hasil penelitian Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian dengan potensi hasil 8,42 ton/ha GKG dan rerata hasil 6,3 ton/ha GKG. Selain dilakukan secara manual, proses panen juga dilakukan penerapan teknologi dengan penggunaan Mico Harvester untuk pemanenan. Diharapkan kedepannya penerapan mekanisasi pertanian dapat dilakukan oleh kebanyakan petani.