• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

Panen Jagung di Manokwari Selatan

Peningkatan Indeks Pertanaman (IP) yang merupkan salah satu pilihan untuk peningkatan produksi. BPTP Papua Barat adalah salah satu UPT di daerah yang mendiseminasikan kegiatan peningkatan indeks pertanaman Kementan. Kegiatan ini dilaksanakan  pada lahan kering di  Ransiki  Kabupaten Manokwari Selatan, dengan luas  denfarm 10 hektar. Penerapan inovasi teknologi pertanian yang diterapkan adalah dengan penggunaan VUB Jagung Bisma, Sistem jarak tanam legowo 4:1, jarak tanam 75 cm x 45 cm Penggunaan pupuk berimbang sesuai hasil uji UPTK , panen dan pasca panen yang benar.

Acara kegiatan Panen Bersama dilaksanakan di Kampung Nyamtui, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan.  Hari  selasa, tanggal 9 Oktober 2018,  dihadiri sekitar 100 orang.   Yang  dihadiri oleh Kepala BPTP Papua Barat, Kadis Ketahanan Pangan Dan  Pertanian  Manokwari Selatan beserta Kabidnya, Peneliti/Penyuluh BPTP Papua Barat, Penyuluh Daerah, Aparat Desa, kelompok tani dan para Petani di Kab. Manokwari Selatan.

Diawali dengan sambutan Kepala BPTP Papua Barat  Ir. Demas Wamaer, M.P., mengtakan bahwa BPTP Papua Barat mendampingi inovasi teknologi pertanian dan salah satu diantaranya adalah pengenalan varietas unggul baru jagung varietas Bisma serta pengetahuan dan teknologi pertanian lainnya. Selain jagung juga diperkenalkan benih padi yaitu padi gogo (padi ladang). Selain itu dijelaskan juga bahwa tujuan indeks pertanaman jagung ini adalah agar penanaman jagung bisa tiga kali pertahun sehingga pendapatan petani dapat meningkat dan dapat mensejahterakan kehidupan keluarganya.

Pada sambutan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Manokwari Selatan, H. Bua, S.ST., memberikan ucapan terima kasih kepada BPTP Papua Barat atas bantuan dan pendampingan yang diberikan kepada petani yakni berupa  padi, jagung dan pepaya. Harapan Ka. Dinas kegiatan ini bukan saja sampai disini artinya kegiatan Indeks Pertanaman (IP) dapat berlanjut. Kembali Kepala Dinas bersyukur karena sangat diperhatikan khususnya kelompok tani Pasmeda dan Nyamtui Distrik Ransiki.  Kepala Dinas kembali berharap pengembangan tanaman jagung tidak saja seluas 10 Hektar tapi dapat dikembangkan sampai dengan 50 – 100 hektar. Ditegaskan pula bahwa beliau siap bekerja sama dengan BPTP Papua Barat dalam pengembangan pertanian di Kabupaten Manokwari Selatan ini.

Lebih lanjut  Dr. Aser Rouw, SP, M.Si, selaku penanggung jawab Indeks Pertanaman (IP) lebih mengarah kepada sistem dan cara panen yang baik pada tanam jagung sehingga bisa menghasilkan benih yang baik untuk ditanam kembali. Menurut beliau bahwa hasil produksi jagung kegiatan IP ini dapat menghasilkan pipilan kering jagung sekitar 5 ton/ha.

Kegiatan Panen Bersama Indeks Pertanaman (IP) Jagung didukung dengan pengembangan komunikasi  inovasi informasi pertanian melalui media elektronik yakni melalui  siaran Televisi Daerah di Kabupaten Manokwari-Papua Barat. Sehingga diseminasi inovasi Teknologi Pertanian yang diinovasikan oleh BPTP Papua Barat, tidak saja sampai kepengguna setempat yakni Manokwari Selatan tapi dapat terjangkau keseluruh daerah yang ada Provinsi Manokwari-Papua Barat. (Halijah)

 

Pameran Bursa Inovasi Desa

Partisipasi BPTP Papua Barat dalam kegiatan Pameran “Bursa Inovasi Desa” di Kabupaten Manokwari pada tanggal 29 Oktober, 2018 membawa hasil yang maksimal bagi diseminasi produk badan litbang pertanian, khususnya pada Petani Lokal di Manokwari, Papua Barat. Kegiatan Pameran Bursa Inovasi Desa diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Kab. Manokwari, dengan tujuan meningkatkan efektifitas penggunaan dana desa oleh para aparat desa.

MEMBANGKITKAN KEMBALI KEJAYAAN COKLAT RANSIKI

Manokwari Selatan (23-11-2018). BPTP Papua Barat bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Manokwari Selatan melakukan pengkajian pengembangan kakao di Manokwari Selatan dalam upaya untuk membangkitkan kembali Coklat Ransiki (Cokran).

Coklat Ransiki (cokran) pada saat itu sudah dikenal secara nasional bahkan manca negara. Coklat memberikan peranan yang besar bagi pendapatan masyarakat Manokwari Selatan sejak tahun 1980an hingga tahun 2000. Namun, karena manajemen yang kurang baik dan hal lain serta kurangnya perhatian pemerintah daerah pada saat itu mengakibatkan perusahaan cokran di Manokwari Selatan mengalami kebangkrutan yang berimbas pada pendapatan petani coklat. Melihat permasalahan ini, BPTP melakukan pengkajian “Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut Pengembangan Kakao di Manokwari Selatan”.

Pada akhir pengkajian disampaikan Seminar Hasil Kajian “Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut Pengembangan Kakao di Manokwari Selatan”, yang dipaparkan oleh Dr. Aser Row, SP., MP. Dalam paparannya, untuk membangkitkan/mengembangkan kakao di Manokwari Selatan diperlukan strategi-strategi, antara lain: 1) Peremajaan dan penataan kebun kakao; 2) Pembuatan Kebun Benih dan Kebun Entres; 3) Intensifikasi melalui dukungan sarana prasarana dan inovasi teknologi; 4). Peningkatan peran dan kapasitas kelembagaan; 5) Optimalisasi rantai tata niaga Kakao; dan 6) Penguatan dukungan kerja sama antar Instansi dan mitra kerja terkait.

Acara Seminar dibuka oleh Bupati Manokwari Selatan, Markus Waran, ST. Dalam sambutannya, Bupati Manokwari Selatan menyampaikan terima kasih kepada BPTP Papua Barat. Beliau mengharapkan dengan hadirnya inovasi teknologi BPTP Papua Barat, Coklat Ransiki bisa mencuat kembali dikenal di manca negara yang mampu meningkatkan pendapatan dan lapangan kerja di daerah, tidak hanya itu, tetapi dapat menjadikan lapangan kerja bagi masyarakat dari kabupaten lain. Hadir dalam acara tersebut stakeholder, antara lain: Sekretaris Dinas ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Manokwari Selatan, Kabid Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Papua Barat, Politeknik Pembangunan Pertanian – Manokwari, Badan Litbang Kehutanan Papua Barat, dan Pengurus Koperasi Eiber Suth Cokran dan perwakilan kelompok petani coklat Ransiki. (M. Fathul Ulum. A)

BPTP PAPUA BARAT SERAHKAN 25.000 BENIH KAKAO

Kepala BPTP Papua Barat, Ir. Demas Wamaer, MP menyerahkan benih kakao sebanyak 25.000 pohon kepada masyarakat Manokwari Selatan. Penyerahan benih kakao dilakukan secara simbolis kepada Bupati Manokwari Selatan, Markus Waran, ST bertempat di Aula Kantor Kabupaten Manokwari Selatan pada hari Jumat, 23 November 2018.

Benih kakao tersebut merupakan klon-klon unggul bersertifikat, terdiri dari Sulawesih 1 dan 2 sebanyak 10.000 pohon berasal dari sambung pucuk dan ICS60, UIT1, GC7, DR1, TSR 858 sebanyak 15.000 pohon berupa seedling. Klon Sulawesih 1 dan 2 dengan sertifikat mutu dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Th. 2018 No: KB.010.04.482.2296.09.2018, sedangkan klon ICS60, UIT1, GC7, DR1, TSR 858 dengan sertifikat mutu No: KB.010.04.483.2296.09.2018.

Dalam sambutannya Kepala BPTP Barat menyampaikan, klon-klon kakao tersebut dapat dijadikan untuk pembangunan kebun entris sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk pengembangan kakao di Manokwari Selatan. Seperti diketahui bahwa masyarakat Manokwari Selatan adalah penghasil biji kakao yang sudah terkenal dengan Coklat Ransiki (Cokran) di tingkat nasional bahkan manca negara. Namun, karena serangan hama Penggerek Batang Kakao yang menjadikan produksi kakao semakin menurun, akhirnya petani mulai meninggalkan budidaya tanaman kakao.

Turut hadir dalam acara penyerahan benih tersebut, stakeholder antara lain: Sekretaris Dinas ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Manokwari Selatan, Kabid Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Papua Barat, Politeknik Pembangunan Pertanian – Manokwari, Badan Litbang Kehutanan Papua Barat, dan Pengurus Koperasi Eiber Suth Cokran. Acara penyerahan benih selesai dilanjutkan dengan Seminar Hasil Kajian “Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut Pengembangan Kakao di Manokwari Selatan”. (M. Fathul Ulum. A)

Transformasi Budaya Petani Lokal melalui Bimtek

Pertanian sawah (intensif/menetap) merupakan sebuah transformasi budaya bagi masyarakat lokal papua dan papua barat yang tebiasa menerapkan sistem pertanian (perladangan) berpindah. Di Manokwari Selatan luas tambahan cetak sawah baru sekitar 1000 ha yang 90% nya berada di wilayah adat masyarakat lokal dan sebagian besar kondisi lahannya belum berpengairan dan belum tertata sebagai sawah yang ideal. Kebiasaan lahan cetak sawah baru sekali tanam (ditanami satu kali kemudian dibiarkan tidak ditanami setelah itu), mengakibatkan kontribusi lahan cetak baru terhadap produksi pertanian daerah tidak maksimal. Untuk itu pendampingan yang intensif perlu dilakukan untuk mendorong semangat petani lokal untuk mengoptimalkan lahan yang sudah tercetak. 

BPTP Papua barat melaksanakan denfarm dukungan inovasi teknologi peningkatan IP pada lahan cetak baru milik petani lokal seluas 10 ha pada hamparan 54 ha dengan melibatkan dua kelompok tani (41 petani): Fasmeda (27 petani) dan Nyamtui (14 petani) yang berlokasi di Kampung Nyamtui, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan. Pendekatan pola tanam yang dilakukan yaitu dengan mengintroduksi Jagung komposit Bisma pada MT 2, memperkenalkan komponen teknologi kepada petani lokal berupa :  sistem tanam legowo 4:1, dan dosis pemupukan spesifik lokasi yang ditentukan dengan PUTK.

Bimtek pemupukan spesifik lokasi dilakukan secara bertahap BPTP Papua Barat, setelah sebelumnya dilakukan bimtek sistem tanam jajar legowo. Kegiatan ini sangat penting karena petani koperator sama sekali belum pernah menggunakan pupuk, meskipun pada musim tanam sebelumnya mereka menanam padi gogo. Bimtek dilaksanakan pada tanggal 20 September 2018, dan dihadiri oleh 70 (tujuh puluh) orang peserta, yang terdiri dari: petani koperator, peneliti/penyuluh BPTP Papua barat, penyuluh lapangan (PPL), serta pihak dinas ketahanan pangan dan pertanian Kabupaten Manokwari Selatan. Waktu bimtek bertepatan dengan pelaksanaan pemupukan kedua pada denfarm tanaman Jagung.

Kepala BPTP Papua Barat dalam sambutannya menyampaikan tugas BPTP dalam upaya pendampingan peningkatan produksi pangan melalui kegiatan strategis kementan adalah mengidentifikasi kebutuhan inovasi teknologi dan kemudian mendampingi secara intensif dalam proses pelekasanaan di lapangan. Pelaksanaan denfarm dan bimtek adalah bagian dari tugas pendampingan BPTP.

Sementara itu, Dr. Ir. Nandang Sukandar, MP mewakili Kepala BBP2TP menyampaikan bahwa BPTP Papua barat dan Dinas perlu menyusun startegi untuk mengoptimalkan lahan-lahan yang ada bagi pengingakatan luas tambah tanam (LTT) dan produksi pangan. Petugas LO dari BPTP dapat mengindetifikasi calon petani dan lahan (CPCL) dan kemudian BPTP menyampaikan secara tertulis ke Dinas Pertanian untuk eksekusi program. Setelah itu, BPTP perlu terus mendampingi untuk memberikan penguatan inovasi teknologi. Dalam konteks ini hasil-hasil kajian BPTP juga dapat segera disampaikan melalui surat ke Dinas agar dapat digunakan secara cepat untuk mendukung upaya peningkatan produksi pangan. Pihak Dinas perlu pula menyampaikan data CPCL yang sudah diprogramkan kepada BPTP, agar BPTP dapat merencanakan dan melaksanakan kegiatan pendampingan secara tepat. Disampaikan pula bahwa BPTP Papua Barat perlu menganalisis kebutuhan konsumsi pangan di Papua Barat dan berapa besar produksi pangan yang diperlukan. Hal ini akan menjadi dasar bagi strategi peningkatan provitas dan luas tambah tanam. Data dan informasi ini perlu nantinya disampaikan pada waktu pembahasan LTT di pusat. 

Selanjutnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Manokwari Selatan yang diwakili oleh Sekretris Dinas: Frans Wilhelmus Meokbun, S.ST dalam sambutanya  menyampaikan apresiasi baik kepada Litbang Pertanian yang telah mendorong optimalisasi pemanfaatan lahan cetak sawah baru khususnya pada masyarakat lokal Papua. “Kami berterima kasih kepada BPTP Papua Barat karena telah mendampingi petani sehingga mereka mulai mengenal dan dapat menggunakan pupuk pada tanamannya”. Dan lebih lanjut kepala Dinas memohon bantuan BPTP untuk terus mendampingi petani agar dapat terjadi transformasi sistem bertani pada petani lokal  di Papua Barat.  

Materi bimtek pemupukan spesifik lokasi disampaikan dengan pendekatan penjelasan dan demonstrasi oleh tim peneliti/penyuluh BPTP yang dipimpin oleh Penanggung Jawab Kegiatan Dukungan Inovasi teknologi untuk peningkatan IP di Papua Barat Dr. Aser Rouw, SP, M.Si. Struktur materi bimtek pemupukan spesifik lokasi disusun sesuai dengan karakteristik para petani lokal yang masih sangat minim menerima dan menerapkan informasi teknologi pertanian. Substansi materi pemupukan spesifik lokasi mencakup empat hal penting: (1) jenis dan manfaat pupuk, (2) cara menentukan dosis pupuk spesifik lokasi, (3) cara memupuk, dan (4) waktu pemupukan. Keempat aspek tersebut disusun dalam bentuk pertanyaan terstruktur yang mudah dipahami yang kemudian dijelaskan dengan bantuan slite dan demonstrasi secara langsung dengan dukungan alat peraga berupa: jenis pupuk (anorganik dan organik), timbangan, alat panakar dan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK).

Jenis pupuk yang diperkenalkan kepada petani adalah Urea, SP36 dan NPK Phonska. Karena jenis pupuk ini yang tersedia dan digunakan oleh petani. Petani diminta untuk menunjuk dan menjelaskan bentuk dan warnah masing-masing jenis pupuk tersebut secara fisual berdasarkan contoh pupuk yang disediakan sebagai alat/bahan peraga. Manfaat pupuk bagi tanaman, dijelaskan dengan ilustrasi hasil tanaman yang diperoleh berdasarkan pengamalaman mereka dalam sistem perladangan berpindah. Mereka mengunkapkan bahwa mereka membuka sebuah hutan dan hanya ditanami sekitar 2-3 tahun kemudian berpindah dan membuka lagi kebun baru. Hal ini dilakukan karena hasil yang diperoleh semakin lama semakin sedikit. Kepada petani dijelaskan hasil yang makin lama makin sedikit karena makanan yang tersedia bagi tanaman di dalam tanah sudah berkurang “ tanah sudah miskin/tidak subur”. Tanah harus dipupuk. Dan inilah manfaat pupuk, yaitu untuk mendapatkan hasil panen yang baik.

Cara menentukan dosis pupuk sepsifik lokasi dijelaskan dengan ilustrasi bahwa berapa unsur hara (makanan tanaman) yang tersedia di dalam tanah? Dan berapa yang dibutuhkan tanaman? Khususnya tanaman jagung. Berapa kekurangan hara yang perlu ditambahkan kedalam tanah supaya mencukupi bagi kebutuhan jagung. Inilah yang dimaksud pemupukan spesifik lokasi. Cara menentukan dosis pupuk spesifik lokasi ini dilakukan dengan alat/perangkat yang disebut dengan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK). Petani tidak asing dengan perangkat PUTK karena telah diperkenalkan/dipraktekkan sebelumnya pada saat awal penentuan dosis pupuk spesifik lokasi pada lokasi Denfarm.

Untuk waktu pemupukan, dijelaskan kepada petani bahwa mereka harus ingat dua hal penting: (1) umur perkembangan tanaman tanaman Jagung dan (2) keadaan tanah. Umur tanaman saat pertumbuhan awal dan memasuki fase pembungaan adalah umur di mana tanaman membutuhkan makanan dalam jumlah yang cukup sehingga saat itu harus dipupuk. Saat memupuk harus memperhatikan keadaan tanah. Jika tanah terlalu kering (pecah-pecah) maka pupuk tidak akan segera larut dan tidak dapat segera digunakan tanaman. Sebaliknya jika terlalu basah (tergenang) pupuk akan cepat larut dan hilang (terhanyut) dari prakaran tanaman. Keadaan tanah yang baik adalah tanah dalam keadaan lembab. Sedangkan cara memupuk yang terbaik adalah dengan membenamkan pupuk dekat  prakaran tanaman, agar pupuk tidak mudah hilang dan segera digunakan tanaman. Petani dilatih juga bagaimana cara menimbang pupuk untuk skala 1 ha dan bagaimana menimbangnya untuk setiap individu tanaman. 

Dalam kegiatan pelaksanaan bimtek ini, tim penyuluh BPTP Papua Barat mengukur tingkat pengetahuan dan ketrampilan petani dalam menerima materi pendampingan dan efektifitas peyampaian materi bimtek dengan cara menyampaikan kuisioner sebelum materi bimbingan dan setelahnya. Hal ini penting untuk merancang bentuk-bentuk kegiatan pendampingan yang efektif pada petani lokal. Petani menunjukkan antusiasme dan partisipasi yang tinggi selama belarsungnya kegiatan bimbingan.

Dengan pendekatan komunal dan intensif untuk membangun dan memotivasi petani lokal yang terlibat sebagai koperator, diharapkan dapat mengubah pola pikir petani lokal sehingga dapat mendorong trasformasi budaya petani tradisional menjadi petani yang mau menerima dan menerapkan inovasi teknologi. Hal ini sudah mulai tampak hasilnya, yaitu mulai terbangunya semangat partisipasi dan swadaya petani lokal selama proses kegiatan denfarm.