• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

Kunjungi Koperasi Kakao, Peneliti Lakukan Observasi

Tim peneliti BPTP Papua Barat yang diketuai oleh oleh Dr. Aser Rouw, SP., M.Si berkunjung ke Koperasi Ebier Suth Kabupaten Manokwari Selatan pada Jumat (24/01/2020). Kunjungan tersebut dalam rangka  melakukan diskusi serta observasi kegiatan untuk mendapatkan ide inspiratif yang bisa diambil oleh tim peneliti. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan teknologi inovasi yang dapat didiseminasikan ke petani kakao secara luas.

Sebagaimana telah diketahui secara luas, kakao merupakan salah satu komoditas unggulan di Provinsi Papua Barat. Kakao Ransiki di Kabupaten Manokwari Selatan bahkan telah menembus pasar internasional, memenuhi permintaan perusahaan besar seperti Cargill, Mars, serta Biji Kakao Trading Ltd yang berpusat di London. Yang menjadi kunci kesuksesan coklat Ransiki tersebut adalah adanya koperasi Ebier Suth Cokran yang manajemennya meniru manajemen perusahaan sehingga mampu menghasilkan produk kakao kering yang berkualitas.

Diskusi diawali dengan pemaparan Dr. Aser Rouw tentang maksud dan tujuan kegiatan pengkajian kakao kepada manajemen koperasi Ebier Suth. Beliau menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak untuk dapat meningkatkan kualitas produk kakao di Kabupaten Manokwari Selatan. Bapak Rahim selaku Wakil Manajemen koperasi sangat mendukung kegiatan tersebut. Beliau juga tidak segan-segan membagikan sistem manajemen dan produksi yang dilakukan oleh koperasi.

Setelah diskusi bersama manajemen, tim mengunjungi lokasi produksi kakao kering dimana fermentasi, pengeringan, penyortiran, dan pengemasan dilakukan. Koperasi ini melayani permintaan kakao kering fermentasi dan non fermentasi. Kakao fermentasi dilepas ke pasar specialty chocolate karena kakao ini diketahui memiliki 6 rasa yang tidak dimiliki oleh kakao dari tempat lain. Rasa yang muncul dari kakao Ransiki ini adalah floral, rum, honey, citrus, nutty, dan roasted. Inilah yang menjadi keunggulan kakao Ransiki yang ingin tetap dipertahankan.

Adapun permintaan kakao non fermentasi dari pasar, selain dipenuhi oleh hasil kebun sendiri, koperasi juga mengambil kakao kering dari petani sekitar. Namun kualitas kakao kering dari petani sekitar masih kurang bagus sehingga harga jualnya pun lebih rendah. Hal inilah yang akan mencoba diperbaiki oleh tim peneliti dari BPTP Papua Barat.