• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

Produksi Benih VUB Padi Sawah BPTP Papua Barat

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat merupakan salah satu UPT Kementerian Pertanian yang mendapatkan mandat untuk memproduksi benih sumber di wilayah kerja masing-masing melalui Unit pengelolaan benih sumber (UPBS). Bekerja sama dengan Balai benih Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBI-TPH) Provinsi Papua Barat dan Balai Benih Induk (BBU) tingkat kabupaten, UPBS BPTP Papua Barat bertugas untuk menyiapkan benih sumber (BD atau BP) untuk kebutuhan petani penangkar sebagai produsen benih sebar (BR). 

Hingga saat ini BPTP Papua Barat belum memiliki kebun percobaan yang berbasis lahan sawah irigasi teknis. Oleh karena itu strategi produksi benih sumber dilakukan melalui kerjasama dengan petani/penangkar. Kegiatan Produksi benih padi Inbrida tahun 2017 dilaksanakan di lahan petani seluas 4 hektar yang terdiri dari varietas Inpari 30, Inpari 32, Cigeulis, dan Ciherang.

Berdasarkan hasil pengawasan BPSB, proses produksi benih di lapangan telah memenuhi syarat untuk proses sertifikasi benih, dan pada pengawasan terakhir oleh BPSB telah diambil sampel gabah calon benih dari gabah hasil panen secara acak untuk uji laboratorium. Hasil uji laboratorium gabah calon benih untuk semua varietas dinyatakan lulus. Varietas yang dinyatakan lulus layak digunakan sebagai benih diperkuat dengan sertifikat benih bina dari BPSB-TPH Provinsi Papua Barat tertanggal 6 Juni 2017.

Varietas

Kelas benih

Jumlah benih (kg GKG) yang ada di Petani

Jumlah benih (kg GKG) yang ada di BPTP

Total Benih (kg)

INPARI 30

SS

1.000

1.000

2.000

INPARI 32

SS

1.000

1.000

2.000

CIGEULIS

SS

2.000

1.000

3.000

CIHERANG

SS

1.500

1.000

2.500

Jumlah

5.500

4.000

9.500

 

Benih yang berada di petani juga diprioritaskan penggunaannya sebagai benih. Benih tersebut akan dikemas dan didistribusikan pada saat ada permintaan benih dari petani lain atau penangkar. Petani juga memiliki hak penuh untuk mengelola benih yang mereka miliki termasuk dalam penentuan harga. Mengingat masa waktu penyimpanan benih, maka benih yang berada di petani juga dapat dimanfaatkan petani untuk menjadikan atau mengolah benih tersebut menjadi beras jika tidak ada permintaan benih.