• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

Transformasi Budaya Petani Lokal melalui Bimtek

Pertanian sawah (intensif/menetap) merupakan sebuah transformasi budaya bagi masyarakat lokal papua dan papua barat yang tebiasa menerapkan sistem pertanian (perladangan) berpindah. Di Manokwari Selatan luas tambahan cetak sawah baru sekitar 1000 ha yang 90% nya berada di wilayah adat masyarakat lokal dan sebagian besar kondisi lahannya belum berpengairan dan belum tertata sebagai sawah yang ideal. Kebiasaan lahan cetak sawah baru sekali tanam (ditanami satu kali kemudian dibiarkan tidak ditanami setelah itu), mengakibatkan kontribusi lahan cetak baru terhadap produksi pertanian daerah tidak maksimal. Untuk itu pendampingan yang intensif perlu dilakukan untuk mendorong semangat petani lokal untuk mengoptimalkan lahan yang sudah tercetak. 

BPTP Papua barat melaksanakan denfarm dukungan inovasi teknologi peningkatan IP pada lahan cetak baru milik petani lokal seluas 10 ha pada hamparan 54 ha dengan melibatkan dua kelompok tani (41 petani): Fasmeda (27 petani) dan Nyamtui (14 petani) yang berlokasi di Kampung Nyamtui, Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan. Pendekatan pola tanam yang dilakukan yaitu dengan mengintroduksi Jagung komposit Bisma pada MT 2, memperkenalkan komponen teknologi kepada petani lokal berupa :  sistem tanam legowo 4:1, dan dosis pemupukan spesifik lokasi yang ditentukan dengan PUTK.

Bimtek pemupukan spesifik lokasi dilakukan secara bertahap BPTP Papua Barat, setelah sebelumnya dilakukan bimtek sistem tanam jajar legowo. Kegiatan ini sangat penting karena petani koperator sama sekali belum pernah menggunakan pupuk, meskipun pada musim tanam sebelumnya mereka menanam padi gogo. Bimtek dilaksanakan pada tanggal 20 September 2018, dan dihadiri oleh 70 (tujuh puluh) orang peserta, yang terdiri dari: petani koperator, peneliti/penyuluh BPTP Papua barat, penyuluh lapangan (PPL), serta pihak dinas ketahanan pangan dan pertanian Kabupaten Manokwari Selatan. Waktu bimtek bertepatan dengan pelaksanaan pemupukan kedua pada denfarm tanaman Jagung.

Kepala BPTP Papua Barat dalam sambutannya menyampaikan tugas BPTP dalam upaya pendampingan peningkatan produksi pangan melalui kegiatan strategis kementan adalah mengidentifikasi kebutuhan inovasi teknologi dan kemudian mendampingi secara intensif dalam proses pelekasanaan di lapangan. Pelaksanaan denfarm dan bimtek adalah bagian dari tugas pendampingan BPTP.

Sementara itu, Dr. Ir. Nandang Sukandar, MP mewakili Kepala BBP2TP menyampaikan bahwa BPTP Papua barat dan Dinas perlu menyusun startegi untuk mengoptimalkan lahan-lahan yang ada bagi pengingakatan luas tambah tanam (LTT) dan produksi pangan. Petugas LO dari BPTP dapat mengindetifikasi calon petani dan lahan (CPCL) dan kemudian BPTP menyampaikan secara tertulis ke Dinas Pertanian untuk eksekusi program. Setelah itu, BPTP perlu terus mendampingi untuk memberikan penguatan inovasi teknologi. Dalam konteks ini hasil-hasil kajian BPTP juga dapat segera disampaikan melalui surat ke Dinas agar dapat digunakan secara cepat untuk mendukung upaya peningkatan produksi pangan. Pihak Dinas perlu pula menyampaikan data CPCL yang sudah diprogramkan kepada BPTP, agar BPTP dapat merencanakan dan melaksanakan kegiatan pendampingan secara tepat. Disampaikan pula bahwa BPTP Papua Barat perlu menganalisis kebutuhan konsumsi pangan di Papua Barat dan berapa besar produksi pangan yang diperlukan. Hal ini akan menjadi dasar bagi strategi peningkatan provitas dan luas tambah tanam. Data dan informasi ini perlu nantinya disampaikan pada waktu pembahasan LTT di pusat. 

Selanjutnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Manokwari Selatan yang diwakili oleh Sekretris Dinas: Frans Wilhelmus Meokbun, S.ST dalam sambutanya  menyampaikan apresiasi baik kepada Litbang Pertanian yang telah mendorong optimalisasi pemanfaatan lahan cetak sawah baru khususnya pada masyarakat lokal Papua. “Kami berterima kasih kepada BPTP Papua Barat karena telah mendampingi petani sehingga mereka mulai mengenal dan dapat menggunakan pupuk pada tanamannya”. Dan lebih lanjut kepala Dinas memohon bantuan BPTP untuk terus mendampingi petani agar dapat terjadi transformasi sistem bertani pada petani lokal  di Papua Barat.  

Materi bimtek pemupukan spesifik lokasi disampaikan dengan pendekatan penjelasan dan demonstrasi oleh tim peneliti/penyuluh BPTP yang dipimpin oleh Penanggung Jawab Kegiatan Dukungan Inovasi teknologi untuk peningkatan IP di Papua Barat Dr. Aser Rouw, SP, M.Si. Struktur materi bimtek pemupukan spesifik lokasi disusun sesuai dengan karakteristik para petani lokal yang masih sangat minim menerima dan menerapkan informasi teknologi pertanian. Substansi materi pemupukan spesifik lokasi mencakup empat hal penting: (1) jenis dan manfaat pupuk, (2) cara menentukan dosis pupuk spesifik lokasi, (3) cara memupuk, dan (4) waktu pemupukan. Keempat aspek tersebut disusun dalam bentuk pertanyaan terstruktur yang mudah dipahami yang kemudian dijelaskan dengan bantuan slite dan demonstrasi secara langsung dengan dukungan alat peraga berupa: jenis pupuk (anorganik dan organik), timbangan, alat panakar dan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK).

Jenis pupuk yang diperkenalkan kepada petani adalah Urea, SP36 dan NPK Phonska. Karena jenis pupuk ini yang tersedia dan digunakan oleh petani. Petani diminta untuk menunjuk dan menjelaskan bentuk dan warnah masing-masing jenis pupuk tersebut secara fisual berdasarkan contoh pupuk yang disediakan sebagai alat/bahan peraga. Manfaat pupuk bagi tanaman, dijelaskan dengan ilustrasi hasil tanaman yang diperoleh berdasarkan pengamalaman mereka dalam sistem perladangan berpindah. Mereka mengunkapkan bahwa mereka membuka sebuah hutan dan hanya ditanami sekitar 2-3 tahun kemudian berpindah dan membuka lagi kebun baru. Hal ini dilakukan karena hasil yang diperoleh semakin lama semakin sedikit. Kepada petani dijelaskan hasil yang makin lama makin sedikit karena makanan yang tersedia bagi tanaman di dalam tanah sudah berkurang “ tanah sudah miskin/tidak subur”. Tanah harus dipupuk. Dan inilah manfaat pupuk, yaitu untuk mendapatkan hasil panen yang baik.

Cara menentukan dosis pupuk sepsifik lokasi dijelaskan dengan ilustrasi bahwa berapa unsur hara (makanan tanaman) yang tersedia di dalam tanah? Dan berapa yang dibutuhkan tanaman? Khususnya tanaman jagung. Berapa kekurangan hara yang perlu ditambahkan kedalam tanah supaya mencukupi bagi kebutuhan jagung. Inilah yang dimaksud pemupukan spesifik lokasi. Cara menentukan dosis pupuk spesifik lokasi ini dilakukan dengan alat/perangkat yang disebut dengan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK). Petani tidak asing dengan perangkat PUTK karena telah diperkenalkan/dipraktekkan sebelumnya pada saat awal penentuan dosis pupuk spesifik lokasi pada lokasi Denfarm.

Untuk waktu pemupukan, dijelaskan kepada petani bahwa mereka harus ingat dua hal penting: (1) umur perkembangan tanaman tanaman Jagung dan (2) keadaan tanah. Umur tanaman saat pertumbuhan awal dan memasuki fase pembungaan adalah umur di mana tanaman membutuhkan makanan dalam jumlah yang cukup sehingga saat itu harus dipupuk. Saat memupuk harus memperhatikan keadaan tanah. Jika tanah terlalu kering (pecah-pecah) maka pupuk tidak akan segera larut dan tidak dapat segera digunakan tanaman. Sebaliknya jika terlalu basah (tergenang) pupuk akan cepat larut dan hilang (terhanyut) dari prakaran tanaman. Keadaan tanah yang baik adalah tanah dalam keadaan lembab. Sedangkan cara memupuk yang terbaik adalah dengan membenamkan pupuk dekat  prakaran tanaman, agar pupuk tidak mudah hilang dan segera digunakan tanaman. Petani dilatih juga bagaimana cara menimbang pupuk untuk skala 1 ha dan bagaimana menimbangnya untuk setiap individu tanaman. 

Dalam kegiatan pelaksanaan bimtek ini, tim penyuluh BPTP Papua Barat mengukur tingkat pengetahuan dan ketrampilan petani dalam menerima materi pendampingan dan efektifitas peyampaian materi bimtek dengan cara menyampaikan kuisioner sebelum materi bimbingan dan setelahnya. Hal ini penting untuk merancang bentuk-bentuk kegiatan pendampingan yang efektif pada petani lokal. Petani menunjukkan antusiasme dan partisipasi yang tinggi selama belarsungnya kegiatan bimbingan.

Dengan pendekatan komunal dan intensif untuk membangun dan memotivasi petani lokal yang terlibat sebagai koperator, diharapkan dapat mengubah pola pikir petani lokal sehingga dapat mendorong trasformasi budaya petani tradisional menjadi petani yang mau menerima dan menerapkan inovasi teknologi. Hal ini sudah mulai tampak hasilnya, yaitu mulai terbangunya semangat partisipasi dan swadaya petani lokal selama proses kegiatan denfarm.

 

 

Sosialisasi Kaji Terap VUB Ampibi di Manokwari

Pada hari Senin, 17 September 2018 bertempat di kediaman Bapak Harsono, Ketua kelompok tani Joker Kampung Handuk, Distrik Prafi Kabupaten Manokwari Papua Barat berlangsung acara sosialisasi Kaji Terap Inovasi Teknologi VUB padi Ampibi Balitbangtan. Acara yang dihadiri 36 orang peserta yang terdiri dari penyuluh BPP, petani dan tim kaji terap dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua Barat bertujuan untuk memperkenalkan 5 VUB padi amfibi yang telah diujicoba di Kebun Percobaan Anday kepada petani untuk dapat digunakan oleh petani sebagai benih pada kegiatan kaji terap.

Kepala BPTP Papua Barat, Ir. Demas Wamaer, MP dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf karena keterlambatan dalam pelaksanaan kegiatan ini. Kegiatan yang seharusnya dimulai sejak bulan Mei atau Juni 2018 lalu, terkendala dengan ketersediaan benih sehingga baru dapat dilaksanakan saat benih telah siap. Pada kesempatan itu Kepala BPTP mengharapkan warga sebagai petani kooperator dapat menerima dan bersama pemerintah berupaya untuk mensukseskan program pemerintah dibidang pertanian, seperti program UPSUS (upaya-upaya khusus) PAJALE (Padi, Jagung, Kedele) dan pola tanam tumpang sari.

Kepala Kampung Handuk, Dorus Muid mewakili tokoh masyarakat dan adat mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dimana kegiatan tahun ini dapat diadakan di Kampung Handuk, dan mengajak masyarakat untuk semangat dalam mendukung program-program pemerintah. Sedangkan dalam sambutan Kepala BPP Prafi, Djaka Mastuti, S.ST lebih mengarah ke OPT (organisme pengganggu tanaman) yang kian tinggi tingkat serangannya oleh sebab itu petani diajak untuk memilih varietas unggul yang benar-benar tahan terhadap serangan OPT sehingga hasil produksi bisa maksimal.

Selanjutnya pemaparan materi oleh Kepala BPTP Papua Barat seputar VUB Amfibi disampaikan secara sederhana sehingga mudah dipahami oleh petani. Dalam kegiatan kali ini tim BPTP Papua Barat mencoba melibatkan petani OAP (orang asli papua) sehingga mereka bisa terlibat dan memposisikan diri dengan saudara-saudaranya masyarakat trans dari Jawa. Petani OAP ini sudah bertahun tahun bercocok tanam padi gogo namun produksinya masih rendah. Harapan mereka dengan adanya sentuhan teknologi melalui VUB maupun PTT produksi padinya dapat meningkat. Pemaparan materi juga dirangkai dengan diskusi dan tanya jawab mengenai padi amfibi dan permasalahannya. Selain itu dibahas pula mengenai penyakit Blas/ Patah leher dan banyaknya biji padi yang hampa yang selanjutnya di respon Kepala Balai dan Peneliti Hama Penyakit Tanaman dari BPTP PB, Surianto Sipi, SP. 

Acara selanjutnya adalah penyerahan benih secara simbolis oleh Kepala BPTP Papua Barat kepada perwakilan kelompok tani Handuk dan kelompok tani Kerenu. Sebanyak 200 kg benih yang terdiri dari 5 varietas yaitu varietas towuti, inpago 4, inpago 8, inpago 9 dan inpago 11 diserahkan kepada petani dan menandai dimulainya kegiatan kaji terap inovasi teknologi pertanian di Distrik Prafi Kabupaten Manokwari. Selanjutnya para petani diharap dapat mengembangkan lagi beberapa VUB yang telah dicoba yang mempunyai daya tahan terhadap serangan OPT dan sudah beradaptasi dengan baik.

 

Focus Group Discussion LTT PAJALE Kabupaten Sorong

Pada 14 Agustus 2018 lalu di Kantor Kebun Percobaan Sorong Balai Pengkajian Teknologi Ppertanian Papua Barat telah dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dalam upaya memverifikasi data Luas Tambah Tanam (LTT) Kabupaten Sorong. Peserta yang hadir diantaranya adalah Kepala Dinas Pertanian Kabupaten, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupeten Sorong, Perwakilan Kodim 1704/ Babinsa, Kepala BPP, Penyuluh yang mebidangi di masing masing wilayahnya dan Para Petani yang kurang lebih berjumlah 56 Orang.

Kepala BPTP Papua Barat dalam sambutannya berharap dengan diadakan kegiatan FGD ini dapat dibahas dan memperoleh data yang valid dalam  upaya-upaya untuk mencapai target LTT. Data tersebut nantinya diharapkan dapat berguna dalam program percepatan waktu tanam periode Tahun 2018 ini. Sebagai penanggung jawab program Upsus di Papua Barat, Ir. Demas Wamaer, MP memaparkan kendala yang sring terjadi dalam pendataan yang berbeda antara Data Pusat dan Daerah. Sehingga perlu dilakukan pendataan langsung atau turun lapangan untuk mendapat sumber data yang tepat. 

Dalam Kegiatan FGD ini dilakukan diskusi dengan pemaparan perkembangan UPSUS Pajale oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sorong, Babinsa serta BPP dan Penyuluh wilayah Salawati, Klamono, Mariat, Salawati, Manyamuk, Moseigen dan Makbon tentang perkembangan LTT. Selain itu juga dibahas tentang kendala-kendala yang dihadapi di lapangan, potensi lahan untuk penambahan LTT, permintaan pendampingan teknologi dari BPTP Papua Barat, serta distribusi bantuan saprodi di tiap wilayah.

 

Bimtek UPSUS PAJALE di Raja Ampat

Pada tahun 2017 ini, Konsorsium Penelitian Padi Nasional kembali berhasil melepas varietas unggul baru (VUB) padi gogo. Konsorsium penelitian padi gogo lintas lembaga yang dibentuk oleh Badan Litbang Pertanian pada tahun 2008 ini berhasil melepas tiga VUB padi gogo yaitu INPAGO 12 AGRITAN, IPB 9G dan UNSOED PARIMAS. Ketiga varietas tersebut telah melalui pengujian di delapan lokasi lahan kering yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dibawah Litbang Pertanian, bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor dan Universitas Jenderal Soedirman.

Varietas INPAGO 12 AGRITAN merupakan padi gogo hasil pemuliaan Badan Litbang Pertanian, memiliki potensi hasil yang tinggi yakni sebesar 10.2 ton/ha, rata-rata hasil 6.7 ton/ha, agak toleran terhadap kekeringan dan keracunan Al yang menjadi masalah di lahan kering masam, dan tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, serta memiliki tekstur nasi yang agak pulen.

Varietas IPB 9G merupakan padi gogo yang dikembangkan oleh Dr. Hajrial Aswidinnoor bersama tim dari Institut Pertanian Bogor. Varietas tersebut memiliki potensi hasil 9.09 ton/ha, dan rata-rata hasil 6.09 ton/ha, tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, agak tahan terhadap keracunan Al dan memiliki tekstur nasi pulen.

Varietas UNSOED PARIMAS merupakan padi gogo yang dihasilkan oleh Prof. Suwarto dan tim dari Universitas Jenderal Soedirman, memiliki potensi hasil 9.40 ton/ha, rata-rata hasil 6.19 ton/ha, tahan terhadap beberapa ras blas, agak tahan terhadap keracunan Al dan kekeringan, dan tekstur nasinya pulen

Ketiga varietas baru tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan bagi petani untuk meningkatkan produksi padi di lahan kering. Konsorsium padi nasional akan terus berlanjut dalam menghasilkan inovasi pertanian mendukung tercapainya swasembada beras berkelanjutan.

 

SINKRONISASI HASIL LITKAJI DAN PROGRAMA PENYULUHAN

Manokwari (23 April 2018). Selain sebagai lembaga penelitian, pengkajian, dan diseminasi serta mengemban tugas fungsi penyuluhan, posisi BPTP sebagai unit pelaksana teknis (UPT) pusat yang memiliki mandat daerah, memiliki peran strategis sebagai penghubung (bridging) kebijakan pertanian pusat dan daerah. Dengan posisi inilah, BPTP mendapat tambahan fungsi melalui Permentan No.19/Permentan/OT.020/5/2017 berupa “pelaksanaan bimbingan teknis materi penyuluhan dan diseminasi hasil penelitian/pengkajian teknologi pertanian spesifik lokasi)”.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas diperlukan upaya bersama untuk mensinkronkan materi hasil litkaji dengan programa penyuluhan baik pusat maupun daerah. Bertempat di Hotel Fujita Papua telah diselenggarakan Kegiatan Sinkronisasi Materi Hasil Litkaji dan Programa Penyuluhan Pertanian Pusat dan Daerah dihadiri oleh 20 tamu undangan dan 60 penyuluh yang datang dari berbagai daerah di Provinsi Papua Barat serta Ketua KTNA Provinsi Papua Barat selama dua hari (23 – 24 April 2018) dengan penanggungjawab kegiatan Ka BPTP Papua Barat.

Acara yang sedianya dibuka oleh Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat, namun karena suatu hal pembukaan acara diwakilkan kepada Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Ir. Yacob Fonataba, M.Si). Dalam sambutannya beliau menyampaikan, menindaklanjuti program nawacita Pemerintah dalam pembangunan khususnya bidang pertanian, tidak dapat dilepaskan dari kegiatan Penyuluhan Pertanian. Kegiatan ini menjadi ujung tombak karena peranan penyuluh pertanian yang sangat penting dalam memberikan pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya, serta meningkatnya kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Dalam melaksanakan tugasnya penyuluh pertanian tidak dapat bekerja sendiri-sendiri, semuanya harus bekerja sama baik Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten yang mendukung sepenuhnya dengan berbagai kebijakan yang terkait kelembagaan dan anggaran.
Penyuluh sangatlah membutuhkan dukungan kelembagaan sebagai wadah untuk berorganisasi secara terstruktur dari daerah sampai pusat. Selain hal tersebut dengan adanya kelembagaan penyuluhan yang baik, akan menjadikan sumberdaya manusia yang profesional dan ketersedian sumber pendanaan yang baik dan akuntabel. Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, diharapkan akan tersususn Programa Penyuluhan Tahun 2019 berdasarkan Materi Hasil Penelitian dan Pengkajian.

Pada hari kedua dalam Kegiatan Sinkronisasi Materi Hasil Litkaji dan Programa Penyuluhan Pertanian, hadir sebagai nara sumber Ka. Pusat Penyuluhan dan SDM Pertanian (Dr. Ir. Siti Munifah, M.Si). Beliau menyampaikan kepada hadirin dan peserta (penyuluh) bahwa visi Pemerintah yang menjadikan lumbung pangan dunia tahun 2045. Untuk itu, perlu didukung SDM Profesional, Mandiri dan Berdaya saing. Ketiga indikator tersebut harus dimiliki oleh penyuluh. Lebih lanjut beliau menyampaikan kegagalan penyuluhan sering terjadi akibat dari ketidak-sesuaian antara programa penyuluhan di daerah dengan programa penyuluhan dari pusat, sehingga mindset penyuluh perlu dibangun kembali.