• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • 62 986 2210832 (telp & fax)

Panen Perdana di Kabupaten Sorong

Kamis 4 Januari 2018 petani dari Kelompok Tani Melati Jaya di Distrik Mariat Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat melakukan panen padi perdana di awal tahun 2018 ini. Panen yang di dampingi oleh Balai Pengkajian Tenologi Pertanian (BPTP) Papua Barat ini dilakukan pada lahan seluas 17 Ha. Selain itu, panen tersebut juga dihadiri oleh Kepala Distrik Mariat, Kapolsek Mariat, Kepala BPP Mariat, dan PPL setempat.

Pada lahan 17 hektar tersebut ditanami padi varietas Inpari 32 yang merupakan VUB hasil penelitian Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian dengan potensi hasil 8,42 ton/ha GKG dan rerata hasil 6,3 ton/ha GKG. Selain dilakukan secara manual, proses panen juga dilakukan penerapan teknologi dengan penggunaan Mico Harvester untuk pemanenan. Diharapkan kedepannya penerapan mekanisasi pertanian dapat dilakukan oleh kebanyakan petani. 

 

Produksi Benih VUB Padi Sawah BPTP Papua Barat

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat merupakan salah satu UPT Kementerian Pertanian yang mendapatkan mandat untuk memproduksi benih sumber di wilayah kerja masing-masing melalui Unit pengelolaan benih sumber (UPBS). Bekerja sama dengan Balai benih Induk Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBI-TPH) Provinsi Papua Barat dan Balai Benih Induk (BBU) tingkat kabupaten, UPBS BPTP Papua Barat bertugas untuk menyiapkan benih sumber (BD atau BP) untuk kebutuhan petani penangkar sebagai produsen benih sebar (BR). 

Hingga saat ini BPTP Papua Barat belum memiliki kebun percobaan yang berbasis lahan sawah irigasi teknis. Oleh karena itu strategi produksi benih sumber dilakukan melalui kerjasama dengan petani/penangkar. Kegiatan Produksi benih padi Inbrida tahun 2017 dilaksanakan di lahan petani seluas 4 hektar yang terdiri dari varietas Inpari 30, Inpari 32, Cigeulis, dan Ciherang.

Berdasarkan hasil pengawasan BPSB, proses produksi benih di lapangan telah memenuhi syarat untuk proses sertifikasi benih, dan pada pengawasan terakhir oleh BPSB telah diambil sampel gabah calon benih dari gabah hasil panen secara acak untuk uji laboratorium. Hasil uji laboratorium gabah calon benih untuk semua varietas dinyatakan lulus. Varietas yang dinyatakan lulus layak digunakan sebagai benih diperkuat dengan sertifikat benih bina dari BPSB-TPH Provinsi Papua Barat tertanggal 6 Juni 2017.

Varietas

Kelas benih

Jumlah benih (kg GKG) yang ada di Petani

Jumlah benih (kg GKG) yang ada di BPTP

Total Benih (kg)

INPARI 30

SS

1.000

1.000

2.000

INPARI 32

SS

1.000

1.000

2.000

CIGEULIS

SS

2.000

1.000

3.000

CIHERANG

SS

1.500

1.000

2.500

Jumlah

5.500

4.000

9.500

 

Benih yang berada di petani juga diprioritaskan penggunaannya sebagai benih. Benih tersebut akan dikemas dan didistribusikan pada saat ada permintaan benih dari petani lain atau penangkar. Petani juga memiliki hak penuh untuk mengelola benih yang mereka miliki termasuk dalam penentuan harga. Mengingat masa waktu penyimpanan benih, maka benih yang berada di petani juga dapat dimanfaatkan petani untuk menjadikan atau mengolah benih tersebut menjadi beras jika tidak ada permintaan benih.

 

Pembinaan Petani Kelapa Wilayah Perbatasan di Papua Barat

Berlokasi di Kabupaten Raja Ampat, tepatnya di setiap kampung yang berada di Distrik Waigeo Utara diantaranya kampung Kalisade, Kabare, Darumbab, Bonsayor, Asukweri dan Kampung Andey dilaksanakan pelatihan dan pembinaan pembuatan minyak VCO (virgin coconut oil), minyak Goreng dan sabun oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua Barat. Acara yang dilakukan oleh tim Pascapanen BPTP Papua Barat pada tanggal 6 november hingga 9 november 2017 ini merupakan kelanjutan dari kegiatan Temu Teknis sebelumnya di kampung kabare pada kegiatan Pengembangan Sistem Pertanian Bioindustri Berkelanjutan Kelapa.

Minyak VCO merupakan salah satu olahan kelapa yang memiliki harga jual yang tinggi. Dengan demikian jika produk tersebut dapat dikembangkan di Distrik Waigeo Utara, yang salah satu komoditas pertanian utamanya adalah kelapa, maka petani dapat meningkatkan sekaligus menikmati khasiat minyak ini. Produk VCO bernilai ekonomi tinggi karena memiliki banyak manfaat untuk kesehatan dan juga perawatan kecantikan. Diharapkan juga usaha ini dapat berkembang dengan baik seiring dengan berkembangnya kegiatan pariwisata di daerah tersebut. Selain dibuat menjadi VCO, produk lainnya dari olahan kelapa yang diajarkan adalah pembuatan sabun dan minya goreng.

Diharapkan dengan pelatihan dan pembinaan pembuatan VCO, minyak goreng dan sabun ini, keterampilan dan pengetahuan masyarakat petani dapat bertambah. Sehingga tujuan akhir yaitu meningkatnya pendapatan, kesejahteraan dan kemandirian masyarakat petani dapat tercapai.

 

Temu Teknis Bioindustri di Raja Ampat

Pada Senin 23 Oktober 2017, Kepala Balai Pengkajian dan Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat Ir. Demas Wamaer, MP sebagai Penanggungjawab Kegiatan berserta tim melaksanakan Temu Teknis Pengenalan Pasca Panen Hasil Kelapa di Kampung Kabare Distrik Waigeo Utara, Kabupaten Raja Ampat. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kegiatan Pengembangan Sistem Pertanian Bioindustri Berkelanjutan kelapa dengan tujuan menerapkan inovasi teknologi pengolahan hasil kelapa secara terpadu mendukung pengembangan pertanian bioindustri berkelanjutan khususnya didaerah Raja Ampat.

Dari kegiatan ini diharapkan berdampak positif terhadap peningkatan nilai tambah produk melalui pengolahan hasil dan pemanfaatan limbah tanaman kelapa,  yang langsung berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan petani dan juga tersedianya produk pertanian dan produk ikutan lainnya dari komoditas kelapa. Hal tersebut sangat beralasan karena masyarakat setempat yang pada umumnya adalah Petani Kopra, dapat mengetahui ada beberapa teknologi pasca panen dari kelapa untuk menghasilkan beberapa produk unggulan diantaranya adalah VCO, Minyak Goreng, Sabun, briket arang, arang aktif dan sebagainya.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 50 peserta dari berbagai kampung di Waigeo Utara, di undang juga kepala Distrik Waigeo Utara yang diwakili oleh Bapak Korneles Lapon. Beliau enyampaikan bahwa Sangat mendukung kegiatan ini, dimana diharapkan dengan adanya pengenalan teknologi yang ada masyarakat dapat menghasilkan produk olahan tersebut untuk dirinya sendiri ataupun dapat menghasilkan produk yang dapat dijual ke luar daerah khususnya untuk para wisatawan.

Pada pertemuan tersebut ditemukan hambatan serta permasalahan yang kemungkinan terjadi di lapangan yaitu (1). Untuk Pembuatan VCO dan Sabun, untuk memperoleh bahan seperti NaOH, Batu Zeolit dan sebagainya susah untuk, (2). Petani hanya mau bekerja kelompok jika anggota tim kegiatan bioindustri turun ke lapangan, (3). Kesulitan Pemasaran. Langkah langkah yang diambil dari menyikapi masalah tersebut antara lain : Koordinasi dengan instansi terkait (Dinas Pertanian Kabupaten Raja Ampat dan Distrik Waigeo Utara) untuk kiranya dapat mendukung keberlanjutan kegiatan ini dan mengembangkan serta mengenalkan hasil produk olahan ke tempat tempat wisata diantaranya Hotel dan Pedagang. Dan perlu dilakuakan konsolidasi kelompok (gapoktan dan poktan) dalam upaya pemberdayaan kelompok serta berupaya mendatangkan bahan dan alat pendukung kegiatan diantaranya Mesin Parut dan Pengempresan.

 

Pengenalan Ayam KUB di Papua Barat

Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) adalah varietas ayam unggul baru yang dikembang oleh Balai Penelitian Ternak, Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian. Untuk mendapatkan hasil optimal, dalam proses pemeliharaannya disarankan untuk mengikuti petunjuk pemeliharaan dan pemberian pakan yang intensif. Keunggulan varietas ayam KUB tersebut selain memiliki corak warna yang beragam, keunggulan lainnya diantaranya bobot badan pada umur sekitar 12 minggu adalah 1.200-1.600 gram, bobot telur 35-45 gram, umur pertama bertelur  lebih awal yaitu 20 - 22 minggu, produktivitas telur lebih tinggi yaitu 160 -180 butir/ekor/tahun serta lebih tahan terhadap penyakit dibanding dengan varietas ayam kampung biasa. Dengan berbagai keunggulan tersebut, ayam KUB sangat cocok untuk dikembangkan sebagai usaha ayam kampung potong.

Pengenalan Ayam KUB di Papua Barat dilakukan melalui kegiatan Temu Lapang oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat. Acara yang diselenggarakan pada tanggal 9 November 2017 tersebut dihadiri oleh sekitar 100 peserta dan bertempat di Kebun Percobaan (KP) Kab. Sorong BPTP Papua Barat. Pada acara tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Kab. Sorong, perwakilan TNI, Polri, Penyuluh Pertanian dan Penyuluh Peternakan, Petani/Peternak serta beberapa Pengurus Koperasi diwilayah Kabupaten Sorong. 

Pada acara yang dibuka langsung oleh Kepala BPTP Papua Barat, Ir. Demas Wamaer, M.P tersebut juga diisi oleh pemaparan dan penjelasan mengenai teknik budidaya Ayam KUB. Pemaparan dilakukan oleh peneliti peternakan BPTP Papua Barat, Ririen Indrawati A, S.Pt mengenai hasil kajian dan penelitian ayam KUB yang telah dilakukan di KP Sorong tersebut. Diharapkan dengan terselenggaranya kajian Ayam KUB dan acara Temu Lapang tersebut, informasi mengenai teknik budidaya varietas unggul baru ayam tersebut di Kab. Sorong dapat tersebar luas dan dapat diadopsi langsung oleh masyarakat umum khususnya masyarakat di Kabupaten Sorong.